Estafet perjuangan

Orang yang menganalisis sunah Allah di alam dan sejarah umat terdahulu akan mengerti sebuah prinsip: “Kebenaran atau kesesatan tidak akan tegak dan tersebar di muka bumi kecuali apabila didukung oleh kekuatan nyata.”

Sunatullah juga menegaskan bahwa selamanya kebatilan tidak ridha kepada kebenaran. Oleh karena itu, kelompok batil selalu berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kelompok hak dari muka bumi, bahkan mereka selalu melakukan regenerasi dan mencetak kader untuk melakukan misi jahat tersebut.

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya, mereka adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Az Dzariyat: 52-53)

Maka, menjadi keharusan bagi kelompok kebenaran untuk selalu mencetak kader dan melakukan regenerasi untuk mendukung tegaknya kebenaran di muka bumi. Seorang aktivis harus merasa berdosa apabila tidak berusaha dan bekerja untuk memperbanyak kader yang siap membela dan memperjuangkan kebenaran.

Rasulullah saw. bekerja selama tiga belas tahun lebih di Mekah untuk menyiapkan kader yang rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk membela kebenaran dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Ternyata, upaya beliau membuahkan hasil yang luar biasa, yakni kader yang beliau bina benar-benar telah mewakafkan diri dan seluruh miliknya untuk jihad fi sabilillah.

Hasan Al Banna menegaskan pentingnya penyiapan kader dengan mengatakan, “Kader adalah rahasia kehidupan dan kebangkitan berbagai umat. Sejarah umat adalah sejarah para kader yang militan, memiliki kekuatan jiwa, dan kehendak yang membaja.Sesungguhnya, kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana kesuburan umat tersebut dalam menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat ksatria.”

Beliau juga berkata, “Jika mengkaji ulang sejarah kebangkitan berbagai bangsa, baik di barat maupun di timur, dahulu maupun sekarang, anda akan menjumpai kenyataan bahwa para pelaku kebaikan dapat menuai sukses karena memiliki manhaj tertentu yang menjadi acuan kerja dan tujuan tertentu yang hendak dicapai. Manhaj dan tujuan tersebut telah digariskan para penyeru kebangkitan dan diupayakan realisasinya sebatas kemampuan dan usia mereka yang tersedia. Jika tujuan belum tercapai karena jatah kehidupan mereka didunia sangat pendek, tampillah generasi penerus dari kaum mereka yang beramal sesuai manhaj dan meneruskan langkah terakhir mereka. Generasi penerus itu tidak memutus apa yang telah mereka sambung, tidak merobohkan apa yang telah mereka bangun, tidak mendongkel formasi yang telah mereka tanam, dan tidak menghancurkan karya-karya yang telah mereka wariskan. Adakalanya generasi penerus hanya meningkatkan kebaikan yang telah dirintis para pendahulnya atau memanfaatkan secara optimal karya-karya mereka. Adakalanya hanya mengikuti jejak mereka lantas menambah satu tingkat di atas bangunan mereka dan membawa umat untuk maju selangkah lagi menuju tujuan yang ditetapkan, atau mengundurkan diri (karena tidak mampu meneruskan langkah) lalu menyerahkan tongkat estafet perjuangan kepada generasi penggantinya. Begitulah seterusnya, sampai cita-cita tercapai, impian menjadi kenyataan, kebangkitan menjadi sempurna, jihad membuahkan hasil, dan umat mencapai apa yang dicita-citakan serta diupayakannya. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah pun, ia akan melihat (balasan) nya.”

Sumber: Buku Pintar Calon Penghuni Surga (Khozin Abu Faqih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s