Zakat dan Ingkar Muzaki

Membuat miskin, ternyata jauh sangat mudah ketimbang menanggulanginya.Tanpa sadar pun, sikap kita bisa-bisa telah turut mengkondisikan kemiskinan. Uang yang kita peroleh, misalnya, tanpa dizakati manfaatnya hanya terasa untuk sendiri. Kalaupun sebagian telah disisihkan, buat membayar pembantu atau untuk sosial, sifatnya hanya sekadar menolong.

Gaji pembantu, sudahkah dibayar sesuai dengan haknya? Mengingat kultur kita yang masih feodal, status pembantu tak lebih dari hamba sahaya. Akibatnya, imbalan yang diperoleh, lebih berlandaskan subyektifitas, bukanatas hak dan kewajiban. Lalu, kalau pun dana untuk sosial telah dialokasikan, jujur saja, persentasenya cenderung kecil. Juga, apakah dana sosial tersebut telah tersedia setiap bulan?

Bila dikuak, soalnya memang bermuara pada cara berpikir selama ini. Bahwa dalam menanggulangi kemiskinan, penanganannya hanya sekadar kerelaan. Karena sifatnya sekadar menolong, hukum zakat yang wajib pun ditepis jadi sunah. ”Landasan menolong adalah kerelaan, bukan paksaan. Bila tak rela, nilai ibadah akan sia-sia,” dalih mereka.

Padahal kedudukan zakat, sama wajibnya dengan shalat. Zakat diwajibkan, karena umat dituntut mengatasi kesulitan ekonomi kalangan miskin. Jadi kalau ada hadits mengatakan shalat merupakan tiang agama, mungkin boleh dikatakan zakat menjadi tiang kepedulian. Lalai shalat, berarti meruntuhkan agama. Tak mau berzakat, artinya telah memberi andil dalam proses pemiskinan. Sesungguhnya, zakat punya kelebihan dibanding rukun yang lain. Zakat memiliki dimensi ganda. Sebuah ibadat yang bukan melulu terkonsentrasi kepada Allah SWT. Melainkan manfaatnya, langsung dapat dirasakan mustahik( yang berhak menerima). Sementara shalat, puasa, dan berhaji, semata-mata memang hanya untuk kepentingan pelaku. Namun, justeru kepentingan inilah yang jadi soal.

Untuk haji atau shalat, berapapun kebutuhan biaya, tetap akan dipenuhi. Sebab yang merasakan nikmat haji adalah yang melaksanakan. Sedang zakat,menjadi tidak populer karena mengambil sebagian rejeki untuk disalurkan kepada orang lain. Karena bukan untuk diri sendiri, muzaki (pezakat) menjadi tak rela. Inilah yang dinamakan ingkar muzaki (orang mampu tak mau berzakat), tak rela hingga tak percaya jika zakat itu wajib.

Pada akhirnya, ingkar muzaki tak hanya sebatas enggan memaruh rejeki. Melainkan juga mengarah pada cara sikap hidup. Dalam berniaga, pikirnya hanya mencari laba. Seluruhnya dikonsentrasikan buat meraup laba. Bila perlu menekan biaya operasional, termasuk memangkas upah karyawan. Wanitad an anak-anak dieksploitasi, seperti cukup diberi makan atau sekadar pengganti transpor saja.

Dalam menjalankan bisnis dengan pihak lain, nuansanya juga tak beda. Untukmengulang sukses, berbagai cara dihalalkan. Tak lagi peduli akan etika,moral dan aturan main. Akhirnya, semua larut dalam memacu diri. Yang tumbang salah sendiri, kenapa tak bisa melihat peluang. Terobosan terus disiasati, keberhasilan di satu sektor merangsang usaha menjadi lebih diversifikasi.

Dalam kondisi begini, istilah zakat bagai menghentak. Pertanyaannya menjadi, siapa yang harus menangani orang jompo, cacat, ataupun anak yatim? Untuk menanggulangi mereka itu atau mustahik lain, Islam mewajibkan zakat. Jelas, zakat menentang penyisihan rejeki berdasarkan suka rela. Membiarkan orang miskin dalam kerelaan, sama artinya dengan penelantaran. Dan kerelaansi kaya, cenderung tak berarti apa-apa. Dengan kemurahan hati, kemiskinan mustahil ditanggulangi. Trickle-down effect, misalnya, ternyata terbukti tak punya kontribusi. Malah harus dihujat karena rembesannya ditampung oleh kelompok sendiri.

Penunaian zakat, merupakan karakter orang beriman. Dalam konteks hubungandengan Allah SWT, itu menjadi tanda ketaqwaan. Sedang imbasnyamemperlihatkan sifat pemurah, kasih, serta santun untuk peduli padamasyarakat. Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘‘Zakat merupakan bukti keimanan”.

Sebaliknya ingkar muzaki, merupakan ciri munafik. Sebab zakat menjadigaris pemisah antara muslim dan non-muslim, iman dan nifak, serta taqwa dandurhaka. Allah SWT menegaskan: ”Dan pada harta-harta mereka, ada hak untukorang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak memperoleh bagian (adz Dzariyat: 19).

Dalam menanggulangi kemiskinan, zakat akhirnya memang menjad bagian penting. Dalam sebuah riwayat hadits, Allah bahkan mengibaratkan sebagai orang miskin yang menuntut hak zakat. Dalam pemahaman ini, hak merupakan hutang pada Allah yang harus dibayar. Karena hak Allah, Dia sendiri yang menghitung prosentase penerimaan dan pengeluaran zakat. Beberapa ulama mengatakan: ”Kaum miskin adalah tanggung jawab Allah, muzaki merupakan perbendaharaan Allah”.

Imbas ingkar muzaki ternyata tak berhenti di situ. Mereka juga takpercaya bahwa pengelolaan ZIS (zakat, infak-sedekah) harus dilakukan amil (pengelola). Dalam benak mereka, lebih afdol kalau menyerahkan langsungpada si miskin. Argumennya, bisa ketemu dan langsung mengontrol. Padahal itu cuma sekadar dalih, dari sebuah keakuan, agar tangan di atas bisa diketahui. Niat promosinya, tetap ada udang di balik batu. Kalau diam-diam buat apa, sebab tak ada manfaat sosialnya.

Seperti Yusuf Qardhawi katakan, ZIS harus dikelola oleh amil. Haknya pun telah digariskan sebagai satu bagian dari mustahik. Artinya, Islam telah menangani soal ZIS ini dengan profesional. Lantas, mengapa kita masih khawatir? Justeru karena khawatir, pengelolaan ZIS menjadisetengah-setengah. Akibatnya menjadi tak populer dan bersifat sambilan.

Dengan sambilan, bisakah dijamin profesionalitasnya? Pertama, pemasyarakatan ZIS cenderung tak optimal. Potensi dana ZIS umat Islam Indonesia, misalnya, tentu sulit bisa dihimpun. Padahal jumlahnya sangatl uar biasa. Akibatnya, kalangan miskin tetap terlantar, tidak tersentuh dana ZIS yang masih mengendap di kocek para muzaki. Dalam konteks pemanfaatan ini, yang paling rugi adalah kalangan miskin juga. Inilah dampak lanjutan dari pengelolaan ZIS secara sambilan.

Untuk merubah citra asal-asalan, kita memang butuh tenaga amil. Amil dibutuhkan karena beberapa faktor di bawah ini:

  • Pertama, hati nurani manusia, kebanyakan telah mengeras. Cinta dunia dan egois, telah menenggelamkan fitrah manusia untuk saling kasih.
  • Kedua, bila mustahik mengambil zakat dari amil, kehormatan dan martabatnya tetap terjaga. Bila langsung ke muzaki, tangan di atas cenderung melecehkan.
  • Ketiga, Islam menetapkan sistem Baitul Maal. Dengan harapan, berbagai dana yang dihimpun dapat dikontribusi dengan tepat.

Agar profesional, tenaga itu harus punya kualifikasi, sama seperti yang dibutuhkan manajemen saat ini. Ada tenaga akuntansi, pembiayaan, kasir, pemasaran, dan seorang manajer yang punya visi bisnis. Bahkan dengan landasan taqwa, amanah, serta paham akan konsep kemaslahatan, amil ZIS punya kualifikasi lebih. Sebab, tak perlu lagi diciptakan perangkat pengontrol keuangan tercanggih. Waskatnya (pengawasan melekat) sudah langsung dipantau malaikat kanan dan kiri.

Sumber:
Buku Keresahan Pemulung Zakat (Eri Sudewo)

4 responses to “Zakat dan Ingkar Muzaki

  1. bagus,,, mari kita berlomba dalam kebaikan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s