Cinta kita cinta yang sehat

Ada kisah menarik tentang Fathimah dan Ali, dua remaja yang tumbuh di bawah asuhan kenabian. Kisah itu berbentuk sebuah dialog. “Suamiku…,” kata Fathimah, “Sebelum menikah denganmu, aku pernah sangat menyukai seorang laki-laki dan aku sangat ingin menikah dengannya”. Berubah rona wajah Ali mendengar kalimat ini. Cemburu, marah, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata, “Apakah engkau menyesal menikah denganku?” Fathimah tersenum geli melihat ekspresi sang suami. “Tidak”, ucapnya pelan. “Karena lelaki itu adalah…, engkau.”

Ehm, ehm, jangan membayang-bayangkan jadi Fathimah dan Ali dulu ya! Cinta, boleh jadi ada. Tapi Fathimah tahu kapan saatnya mengungkapkan agar ianya tak menjadi penyakit di hati masing-masing. Bandingkan jika kau ungkap cintamu sekarang, tapi Allah tak hendak menikahkanmu dengannya. Bukankah hanya sakit yang kau rasa? Bukankah ia merusak kesucian jiwa?

Saudaraku, sahabatku. Cinta yang sehat belum menuntut apa-apa, jika belum ada ikrar halal atasnya. Boleh jadi engkau merahasiakan rasa simpati dan ketertarikan. Tetapi tetap saja penyakit namanya kalau orientasi kedepanmu hanya si dia. Maksudnya, kalau engkau mendikte Allah bahwa dialah yang pasti jadi jodohmu. Lalu engkau bukannya meminta yang terbaik dalah istikharahmu, tetapi benar-benar mendikte Allah: “Pokoknya harus dia Ya Allah… Pokoknya harus dia!

Kalau begitu caranya, seolah engkau menentukan segalanya. Karena engkau meminta dia ‘dengan paksa’, lalu Allah memberikannya padamu, kiranya kau bisa menebak itukah yang terbaik untukmu? Tak selalu. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya dengan kelembutan, tapi Ia melemparnya dengan marah karena niat yang terkotori. Maka bersiaplah menggigit jari dalam kekecewaan abadi:

“Kecelakaan besarlah bagiku. Kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan menjadi kekasihku!” (Al Furqan: 28 )

Aku mengajakmu bicara tentang cinta yang sehat. Betapa jibril ‘Alaihissalam mengajarkan esensi luar biasa pada kita melalui lisan Rasulullah tentang hakikat hidup, amal dan cinta yang sehat:

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu tapi kau pasti akan mati. Berbuatlah sekehendakmu tapi kau pasti dibalas. Dan cintailah siapapun yang kau mau tapi engkau pasti berpisah dengannya.” (HR. Ath Thabrani)

Cintailah siapapun, tapi kau pasti berpisah dengannya. Kalimat ini menyentakkan sebuah kesadaran, bahwa sehatnya cinta mutlak agar tiada penyesalan, kecewa, dan nelangsa dalam hidup yang singkat ini.

Kalau nasehat ini tak cukup, bukankah Allah sendiri telah mengajakmu bicara:

“…Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216)

Salim A. Fillah
Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

10 responses to “Cinta kita cinta yang sehat

  1. Pingback: Sedikit nasehat tentang cinta… « Blogger IPB

  2. Wah bagus tulisannya, tak copy ya mau tak kirim ke milisku..😉

  3. …tidak lantas mencintai itu menjadi haram hukumnya…..
    Jika mencintai itu haram maka pastilah Rasulullah saw sebagai Rasul dan ayah yang peka perasaannya tidak akan menikahkan Ali dengan Fathimah, namun justru memisahkannya.
    Kenyataannya. Rasulullah menikahkan mereka. Artinya, mengizinkan mereka menempatkan cintanya di tempat yang lebih tepat, yaitu bingkai pernikahan.
    Jika kau mencintai seseorang, serahkan pada Allah dalam istikharahmu. Manakala Ia memantapkan hatimu, perjuangkanlah!
    Saudaraku, perjuangkanlah…..!

  4. emmmh..yang pasti jaga niat.
    keep barokah.
    en ikhlas.

  5. benar, saudara/ri ku seiman, ALLAH Maha Tahu apa yang terbaik buat kita. InsyaALLAH pacaran setelah menikah jauh lebih indah, dan kita akan merasakan keagungan ALLAH yang telah menyatukan cinta itu. Aku hanya hamba ALLAH yang mecoba merasakan cinta setelah ikrar halal terucap.

    Boleh di-link ga blog nya? thanks….salam kenal.

  6. Fadhillah Hakim

    Kenikmatan, kebahagiaan dan keindahan pacaran setelah menikah, Insya Allah memang benar adanya. Walaupun kita belum merasakannya, yakinilah dengan imanmu akan hal tsb.
    Janganlah kita membatasi nikmatnya pendamping hidup sholeh/ah yang yang telah direncanakan akan diberikan kepada kita oleh-Nya, dengan menetapkan sendiri jodoh yang kita inginkan, bukan yang diinginkan-Nya.
    MANTAPKAN NIAT, JAGA PANDANGAN, dan “DUIT” (Do’a, Usaha, Iman dan Taqwa). Insya Allah..

  7. iya dong kita harus hati2 di zaman sekarang ini yang penting kita lebih mnjaga hati

  8. wah maksih banget atas tulihannya begitu indah dan menyentuh…..minta di copy ya..biar bagi2 ilmu lhoo, teruslah berkarya….

  9. setuju banget Yakin ja klo Alloh pasti akan memberikan yang terbaik bwt qt ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s