Jangan bertanya kalau gak penting!

Memperdebatkan masalah yang tidak berhubungan dengan amal perbuatan adalah perdebatan yang dilarang oleh syari’at. Muslim positif adalah muslim yang hanya melakukan perbuatan yang bermanfaat. Demikian juga mereka hanya menayakan pertanyaan yang bermanfaat. Sebagaimana firman Allah:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl: 43)

Disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah ditanya tentang 14 masalah yang semuanya terdapat didalam al Qur’an. Misalnya,

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’. (Al Baqarah: 219)

Pada saat itu, para sahabat tidak bertanya tentang masalah yang tidak bermanfaat seperti sekarang, misalnya pertanyan seperti:

“Apakah pertanyaan malaikat didalam kubur menggunakan bahasa arab atau bahasa lainnya?”
“Siapa nama bapak dan Ibu Nabi Musa as?”

Demikian pula pertanyaan tentang jumlah anak muda yang disebut dalam kisah “ashabul kahfi“. Al Qur’an menjelaskan perbedaan pedapat jumlah mereka. Al Qur’an tidak menjelaskannya secara pasti. Jika ditanyakan sekali lagi, untuk apa pertanyaan seperti ini? Apa manfaatnya diketahui jumlah mereka, padahal AL Qur’an sendiri tidak pernah menjelaskannya secara pasti?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tujuannya hanyalah untuk mebesar-besarkan masalah atau bertanya dengan tujuan untuk menguji kemampuan seseorang atau mempermalukannya dihadapan orang banyak. Pertanyaan seperti ini termasuk dalam perbuatan yang memaksakan diri.

Didalam al Qur’an disebutkan larangan untuk bertanya sesuatu apabila membawa pada keadaan yang justru akan menyulitkan kita.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepada mu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan diwaktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Al Ma’idah: 101)

Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya, orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan karena diakibatkan oleh pertanyaannya.” (HR. Bukhari)

Contoh lain yang termasuk perbuatan yang memberatkan diri adalah membahas masalah yang diluar pengetahuan dan kemampuan kita, misalnya apakah makna “alif lam mim” pada permulaan beberapa surat dalam al Qur’an?

Ada yang mengatakan, “Dalam setiap kitab, ada rahasianya. Dan rahasia Al Qur’an terletak pada ayat-ayat “mutasyabihat” yang maknanya hanya diketahui oleh Allah”. Kemudian muncul orang-orang yang berusaha mencari jawaban atau makna. Ada yang menafsirkan bahwa hari kiamat akan terjadi setelah 280 tahun.

Ada lagi yang menghitung dengan hitung-hitungan misalnya alif=1, mim=40 dan seterusnya, sehingga dapat dijadikan untuk meramal nasib, sehingga sampai pada kesimpulan bahwa hari kiamat tinggal sekian tahun lagi.

Pembahasan seperti ini, dalam kajian ushul fikih, disebut dengan “Mulatu-ilmi“. Yaitu sekedar lelucon. Fenomena yang lebih lucu lagi, orang lebih menerima hal yang seperti ini dari pada ilmu yang asli.

Hal yang perlu ditekankan adalah, agar para da’i tidak membahas masalah seperti ini. Lebih baik bagi setiap da’i untuk membahas masalah ummat yang demikian banyak. Jadi marilah kita berbuat dengan hal-hal yang bermanfaat dan positif, tidak banyak berkhayal dan tidak berdebat yang tidak ada gunanya.

One response to “Jangan bertanya kalau gak penting!

  1. contoh pertanyaan yg menyulitkan diri sendiri, seperti pertanyaan kaum nabi Musa ketika diperintahkan untuk menyembelih sapi…

    Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.

    Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.

    Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

    Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

    Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

    Al Baqarah: 67-71

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s