Global warming dan akidah kita

Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru diduga darinya, adalah suatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia didunia ini justru banyak yang termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit, dan krisis ekonomi yang kabarmnya akan menimpa mereka.

“Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.” (QS. Al-Baqarah (2): 168)

Mereka yang menangis sedih menatap masa depan, adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di genggaman yang lain tentu tidak akan mengabaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, tentu salah besar bila justru menyibukan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.

Menyikapi berbagai bencana, perubahan iklim, pemanasan global, dan isu-isu sejenisnya,  sebagian dari manusia berusaha dengan ramalan-ramalan ilmiahnya, memprediksi apa-apa yang akan terjadi 10 atau 100 tahun kedepan jika kita terus merusak alam. Hilangnya pulau, punahnya berbagai jenis satwa dan tumbuhan, kelaparan, bencana alam, adalah sebagian dari hasil ramalan ilmiah yang akan terjadi.

Begitu gencarnya kampanye ini, sampai tertanam dalam diri sebagian kita, bahwa itu akan benar-benar terjadi. Sebagai seorang muslim, janganlah kita melupakan bahwa penguasa alam dan isinya, yang berhak melakukan apa-apa terhadap alam dan isinya adalah Allah SWT. Daun saja tidak akan jatuh dari tangkainya tanpa ijin Allah. Lalu bagaimana mungkin kita bias meyakini berbagai bencana itu hanya karena ramalan-ramalan manusia dan kemudian melupakan kekuasaan Allah. Memang Allah memperingatkan kita bahwa jika kita berbuat kerusakan dimuka bumi, maka akibatnya akan menimpa kita sendiri. Tapi Allah juga memberikan kesempatan kepada kita, manusia untuk memperbaiki diri. Dan jika kita melakukannya, maka Allah akan memberikan jalan kepada kita untuk menuju perbaikan.

Karena itu, alangkah lebih baiknya kita mengambil pelajaran dari kerusakan yang telah terjadi untuk mulai berubah tanpa dibayang-bayangi oleh ramalan akan kerusakan dan bencana yang belum pasti terjadi. Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba; belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Lalu, kenapa kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, meramalkan bencana-bencana yang akan ada didalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita akan berwujud kesenangan atau kesedihan?

Jika anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menebus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit didalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karena itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s