MENGHARAPKAN KERIDHAAN ALLAH SWT

Allah swt berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah swt dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah 98:5)

Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya dan sessungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkannya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Al-ustadz Abu Qasim Al-Qusyairi rahimahullah dia berkata:
“Ikhlas ialah taat kepada Allah swt saja dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt tanpa sesuatu tujuan lainnya, seperti berpura-pura kepada makhluk atau menunjukkan perbuatan baik kepada orang banyak atau mengharap kecintaan atau pujian dari manusia atau sesuatu makna selain mendekatkan diri kepada Allah swt.” Dan dia berkata: “Bisa dikatakan, ikhlas itu adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk.”

Dzin Nun Rahimahullah, berkata:
“Tiga perkata merupakan tanda ikhals yaitu sama saja tidak terpengaruh oleh pujian dan celaan orang banyak; lupa melihat di antara amal-amal; dan mengharapkan pahala amal-amalnya di akhirat.”

Fudhai bin Iyadh ra, berkata:
“Meninggalkan amal untuk orang banyak adalah riya dan bermal untuk orang banyak adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Allah swt membebaskanmu dari keduanya.”

Sahl At-Tustari rahimahullah, berkata:
“Orang-orang cerdas mengetahui penafsiran surah Al-Ikhlas, tapi mereka tidak mendapat selain ini yaitu gerak dan diamnya dalam keadaan sendiri ataupun di hadapan orang lain hanya bagi Allah swt semata-mata, tidak bercampur sesuatu apapun baik nafsu, keinginan ataupun kesenangan dunia.”

As-Sariyyu rahimahullah, berkata:
“Jangan lakukan sesuatu karena mengharap pujian orang banyak, jangan tinggalkan sesuatu karena mereka, jangan menutup sesuatu karena mereka dan jangan membuka sesuatu karena mereka.”

Al-Qusyairi, berkata:
“Kebenaran yang paling utama adalah kesamaan antara dalam keadaan sunyi (sendiri) ataupun di dalam kebanyakan orang banyak.”

Al-Harith Al-Muhasibi rahimahullah, berkata:
“Orang yang benar tidak peduli, meskipun dia keluar dari segala apa yang ditetapkan dalam hati makhluk terhadapnya untuk kebaikan hatinya. Dan dia tidak suka orang-orang mengetahui kebaikan perbuatannya sedikit pun dan tidak benci jika orang-orang mengetahui perbuatannya yang buruk karena kebenciannya atas hal itu adalah sebagai bukti bahwa dia menyukai tambahan di kalangan mereka, yang demikian itu termasuk akhlak orang-orang yang lurus.”

Imam An-Nawawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s