Kisah Rasul, Merapi, dan Satwa

Seekor anjing menggelepar karena kehausan di padang pasir. Seorang pelacur yang lewat di sampingnya sangat iba melihat nasib anjing yang sedang pingsan itu. Dia ambil persediaan airnya untuk diberikan kepada anjing yang kehausan. Spontan anjing tersebut siuman dan sembuh. Karena jasanya menyelamatkan anjing itu, tulis Buchori Muslim dalam kitab kumpulan hadisnya, sang pelacur pun masuk surga. Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosanya karena rasa kasihnya kepada anjing.

 

Banyak kisah yang menyebutkan bahwa para nabi dan orang-orang suci menganjurkan kepada pengikutnya untuk menyayangi hewan, satwa, atau binatang. Abu Hurairah, salah seorang sahabat Rasul yang amat dihormati umat Islam, misalnya, dikenal sebagai Bapak Kucing karena sangat mencintai binatang itu. Ketika memasuki Kota Makkah setelah menaklukkan tentara Quraisy, salah satu perintah Rasul adalah tidak membunuh satwa apa pun yang ada di kota suci itu. Rasulullah SAW terkenal sebagai penyayang binatang.

 

Deval dalam bukunya Deep Ecology menyatakan bahwa manusia harus melindungi makhluk-makhluk lain atau binatang secara bijak karena mereka bermanfaat bagi keseimbangan sistem kehidupan di muka bumi. Makhluk hidup apa pun merupakan mata rantai ekosistem kehidupan yang satu sama lain saling membutuhkan. Kitab suci umat Islam, Alquran menyebutkan bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Hal senada diungkapkan pula dalam kitab-kitab suci yang lain seperti Injil, Veda, dan sebagainya.

 

Berangkat dari perspektif inilah, dalam menyikapi kemungkinan meletusnya Gunung Merapi, di samping manusia di Merapi dan sekitarnya, kita juga perlu memperhatikan dan menyelamatkan satwa di wilayah itu. Terutama, perhatian itu diberikan kepada satwa langka seperti elang Jawa, macan kumbang, dan macan tutul. Ketiga satwa ini populasinya sudah sangat sedikit sehingga jika manusia tidak melindunginya, bisa musnah. Jika mereka musnah, lantas siapa yang bisa menciptakannya? Tak ada!

 

Dunia sudah kehilangan harimau Jawa dan manusia tak akan bisa menciptakannya lagi. Musnahnya harimau Jawa tidak hanya merugikan orang Jawa, tapi juga orang-orang di seluruh dunia. Musnahnya harimau Jawa sama dengan terputusnya rantai ekosistem kehidupan di muka bumi. Dan itu pasti akan menimbulkan ‘problem’ kehidupan yang tak mudah diatasi manusia. Problem itu mungkin sudah ada di tengah kita, tapi kita belum merasakannya.

 

Habitat satwa liar

Gunung Merapi merupakan habitat berbagai jenis satwa liar seperti burung, kucing, tikus, ular, macan, dan lain-lain. Yang paling terkenal di antaranya –karena sangat khas, langka, dan dilindungi secara ketat– adalah elang Jawa, macan tutul, dan macan kumbang. Mereka menjadikan kawasan Merapi dan sekitarnya sebagai tempat berlindung dari berbagai gangguan, berkembang biak dan membesarkan anak-anaknya, serta mencari makanan dan minuman untuk kelangsungan hidupnya.

 

Ketika Merapi ‘batuk-batuk’ dan diperkirakan bakal meletus, pemerintah dan pelbagai organisasi sibuk bekerja untuk menyelamatkan manusia yang tinggal di Merapi dan sekitarnya. Sedangkan nasib satwa-satwa yang tinggal di sana nyaris belum terpikirkan orang: bagaimana cara mengevakuasinya dan bagaimana cara menyelamatkannya?

 

Saat gunung berapi akan meletus, melalui naluri alamnya yang tajam, banyak satwa yang turun gunung untuk menyelamatkan diri. Mereka mencari daerah aman untuk berlindung. Tapi sayangnya, sulit bagi mereka untuk mencari tempat perlindungan tersebut. Sebab daerah-daerah lereng dan dataran tinggi di sekitar Merapi sudah dihuni manusia. Mereka sulit menemukan daerah penyangga dan jalur-jalur koridor pengaman yang dapat melindungi mereka.

 

Daerah yang seharusnya menjadi penyangga dan koridor pengaman satwa-satwa tersebut kini sudah menjadi wilayah permukiman, perkebunan, dan ladang-ladang penduduk. Kita bisa membayangkan bagaimana sulitnya satwa-satwa itu untuk mencari perlindungan guna menyelamatkan diri bila Merapi meletus. Mereka mungkin bisa lari dari lereng Merapi, tapi apakah akan selamat jika mereka datang ke permukiman dan perkebunan penduduk?

 

Kita masih ingat ketika seekor macan kumbang ‘tersesat’ masuk kampus UGM Yogyakarta tahun 2001, saat Merapi meletus. Jelas dia sedang berusaha menyelamatkan diri dari letusan Merapi. Beruntung, nasib macan kumbang yang tinggal di sekitar Merapi ini mujur karena berlindung di kampus yang penghuninya mengerti akan arti penting keberadaan harimau dalam ekosistem. Dia ditangkap dan dipelihara untuk kemudian dikembalikan ke habitat aslinya. Seandainya macan itu tersesat di kampung yang padat penduduk, entah bagaimana nasibnya. Bisa-bisa dia dibunuh ramai-ramai oleh warga kampung. Hal yang sama mungkin akan menimpa satwa-satwa yang menyelamatkan diri dari ‘hawa panas’ Merapi jika mereka datang ke kampung.

 

Dari gambaran itulah, pemerintah perlu memikirkan bagaimana cara menyelamtkan satwa-satwa tersebut. Pemerintah perlu membuat daerah penyangga di sekitar Merapi dan membuat jalur khusus atau jalur hijau sebagai koridor untuk migrasi satwa-satwa tersebut ke daerah penyangga. Hal itu niscaya dapat diupayakan pemerintah karena wilayah Gunung Merapi termasuk dalam daftar taman nasional. Dan di kawasan yang berstatus taman nasional pasti ada petugas yang secara khusus menjaga dan menyelamatkan satwa-satwa penghuninya, terutama ketika ada bencana alam seperti letusan gunung berapi.

 


Upaya penyelamatan

Untuk melakukan penyelamatan satwa dalam jangka pendek, perlu ada program sosialisasi kepada masyarakat sekitar Gunung Merapi. Masyarakat harus diajari bagaimana sikap mereka untuk mengamankan dirinya bila berhadapaan dengan satwa liar yang berbahaya dan bagaimana membantu mengamankan satwa liar tersebut. Di samping itu, pemerintah atau organisasi yang peduli, perlu menyiapkan relawan-relawan yang mempunyai kemampuan melakukan perawatan dan penanganan kesehatan satwa-satwa yang luka dan sakit. Tak kalah pentingnya, perlu didirikan posko-posko penyelamatan satwa di jalur-jalur pengungsian serta menetapkan rumah sakit hewan untuk merawat hewan yang luka dan mengalami kecelakaan.

 

Sementara untuk jangka panjang, perlu ada penerapan konsep konservasi hot spot keanekaragaman hayati dengan sistem koridor. Koridor ini menghubungkan kawasan-kawasan konservasi sebagai sistem jaringan pengaman yang juga berfungsi sebagai daerah perlintasan satwa. Dengan demikian keselamatan satwa liar akan lebih terjamin jika ada bencana alam.

 

Dari perspektif itulah, kita harapkan penentuan taman-taman nasional di wilayah pegunungan tersebut ditindaklanjuti dengan penentuan daerah-daerah pengungsian satwa. Daerah-daerah pengungsian satwa ini merupakan kantong-kantong penyangga yang satu sama lain dihubungkan dengan koridor hijau. Untuk mencegah perusakan dan eksploitasi oleh manusia, kantong-kantong penyangga ini harus bersatus hutan lindung atau kawasan suaka alam. Sedangkan koridornya bisa berstatus hutan lindung, hutan produksi, atau perkebunan.

 

Sebagai contoh, ketika ada bencana alam di Taman Nasional Meru Betiri. Waktu itu banyak satwa liar seperti harimau loreng Jawa, banteng, rusa, babi hutan, kerbau liar, dan lain-lain menggunakan koridor perkebunan yang menghubungkan Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Baluran untuk menyelamatkan diri. Mereka berjalan sepanjang ratusan kilometer untuk mencari tempat berlindung yang aman dan cukup makanan di Baluran.

 

Dulu koridor tersebut aman. Namun belakangan, koridor yang menghubungkan Taman Nasional Meru Betiri dan Baluran tersebut sudah tidak aman lagi. Di sepanjang koridor pengaman itu banyak pemburu liar dan pembantai satwa tak bertanggungjawab. Akibatnya, harimau loreng Jawa kini sudah tidak ada lagi. Dia telah punah dari muka bumi. Agar peristiwa semacam tidak terulang, pemerintah perlu menetapkan kawasan penyangga dan koridor seperti itu.

 

Dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, 1992, ada kesepakatan untuk membangun kawasan konservasi pegunungan. Harapannya, kawasan pegunungan yang memegang peran penting dalam pembangunan ekosistem berkelanjutan terus dipertahankan. Di Indonesia, dari 50 taman nasional dengan luas total 16.276.878 hektar, 11 di antaranya adalah taman nasional di daerah kawasan yang berciri pegunungan dengan luas total 2.709.282 hektar dan tiga taman nasional yang kawasannya berbukit-bukit pegunungan dengan luas total 569.723 hektar.

 

Ini berarti baru ada empat persen gunung di Indonesia yang statusnya adalah taman nasional. Padahal, jumlah gunung di Indonesia amat banyak. Dan hebatnya lagi, di setiap gunung ada keistimewaan dan keunikan tertentu pada ekosistem dan keanekaragaman hayatinya. Itulah kekayaan Indonesia yang harus mendapat perlindungan.

 

Hadi S Alikodra
Guru Besar Satwaliar Fakultas Kehutanan IPB

One response to “Kisah Rasul, Merapi, dan Satwa

  1. aq setuju, kita harus menyayangi binatang, ini salah satu bukti bahwa kita ….punya kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s