What Should I do

Kemenangan tak diraih melalui penantian panjang, melainkan mengukir setiap halaman dengan prestasi. Engkau tak kan panen hanya dengan memimpikan ilalang tumbang, tetapi dengan menanam benih dan membasmi hama. Islam sebagai rahmatan lil’alamin, maka sikap dan perilaku kita hendaknya sesuai dengan tuntutan akhlak ajaran agama kita.

Terinspirasi dari sifat Rasul junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yaitu sidiq, benar dan menegakkan kebenaran. Memegang amanah, bumi dan alam Indonesia ini merupakan amanah, kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk kita pelihara dan kita bina, kemudian tabligh artinya kita harus menyampaikan ajaran apa saja yang baik, kepada siapa pun juga. Dan Fathonah kita harus cerdas dan berpengetahuan. “Mengejar ketertinggalan”, sudah waktunya redaksi semacam ini dihapuskan selama – lamanya.

Sangat melelahkan mengejar ketertinggalan yang tak pernah punya toleransi menunggu. Mengapa harus dikejar, kalau bisa dicegat sebelum datang? Atau diidentifikasi apakah sesuatu itu benar – benar ketertinggalan? Generasi awal dididik untuk tidak pernah merasa tertinggal, walaupun berbagai sumberdaya penopang system kufur telah begitu kokoh.

Kejelasan visi, kepastian langkah, keikhlasan pemimpin, ketaatan kader dan kesungguhan berkorban semua pihak telah membuat kejutan – kejutan yang menyebabkan musuh merasa terkejar dan tertinggal. “Hidup mulia atau mati syahid” , menandakan sebuah kematian memang layak ditangisi.

Tapi siapapun yang masih hidup, harus jujur dan adil dalam menghargai sebuah kematian. Agar tangis kematian, tidak menjadi ritual yang rasialis, diskriminatif atau bahkan menjadi tunggangan konspirasi tingkat tinggi. Pada setiap kematian memang harus ada sikap, harga dan tindakan. Tetapi bukan sebuah reaksi pendulum, yang daya baliknya sering lebih menyakitkan dari daya dorongnya.

Karenanya, siapapun kita, yang masih dikarunia hidup hingga detik ini, semestinya berlaku jujur dan adil dalam menghargai sebuah kematian. Setiap bernyawa pasti akan mati, dan tidak selayaknya kita menjadi “pedagang” kematian untuk sebuah kepentingan yang tidak manusiawi namun alangkah kreatifnya jika berada dalam perspektif produktifitas amal kebaikan.

Hanya ada dua jalan, jalan fujur dan taqwa dan kita tidak boleh salah langkah. Harus ada kehendak kuat, kemauan besar untuk meniti tapak demi tapak, menuju kekayaan jati diri seorang mukmin, yang kerinduannya kepada Surga dan memandang wajah sang Khalik karena sesungguhnya kita akan dibangkitkan bersama dengan orang yang kita cintai.

Apakah kita kan membiarkan diri hilang ditelan ombak masa atau menyematkan inspirasi kalamNya di dada kehidupan ini sampai diujung kehidupan kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s