Ujian dunia dimata seorang muslim

Mengapa ada orang yang berpikir dunia itu bak fatamorgana di gurun pasir yang panas. Mengapa juga ada orang yang dengan sebegitunya membanggakan kehidupan duniawinya. Ada yang sangat puas dengan apa yang dilakukannya hari ini. Ada pula yang terus berjuang dan berupaya memperbaiki diri untuk membuat sesuatu yang terbaik dalam hidupnya.

 

Yah….semuanya tidak bisa disalahkan. Begitulah kiranya karakter manusia. Tuhan menciptakan semuanya penuh dengan keseimbangan. Ada malam ada siang. Pria-Wanita. Jahat-Baik. Kaya-Miskin. Hidup-Mati. Kita tidak bisa merasakan andai kata hanya satu unsur saja yang tercipta. Pasti tak kan tercipta keseimbangan dan keharmonisan. Timbul kebosanan dalam waktu sekejap. Bahkan kehancuran.

 

Itulah salah satu tanda-tanda kebesaran Tuhan yang bisa kita lihat dan rasakan. Seseorang dikatakan beriman jika kita tlah melewati ujian-ujian dan rintangan2 yang begitu tajam, berlika-liku dan penuh penderitaan. Disinilah kualitas dan komitmen manusia dipertaruhkan. Ada yang baru merangkak sudah jatuh tersungkur. Ada yang berdiri dan melangkah sedepa, sudah tersandung dan terjungkal ditengah jalan. Ada pula yang sampai ditengah2 perjalanan, lantas memutuskan untuk berhenti karena terbujuk kenikmatan sesaat. Ada pula yang sukses melewatinya. Dengan zuhud. Dengan ke-istiqomahannya. Dengan jiwa dan hati yang pasrah, tunduk, tawadhu’ karena mengharap surgaNya. Inilah the Real Moslem. Tidak setengah-setengah. Ia berjalan lurus kedepan mengikuti jalan Tuhan nya. Melaksanakan amalan-amalan mulia. Sangat takut akan siksa nerakaNya. Hati, mata, telinga, tangan, dan kaki dan semua bagian tubuhnya ia serahkan untuk beribadah kepadaNya.

 

Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah termasuk dalam orang2 ”the Real Moslem”?

 

Apakah masih tertatih-tatih dan sesekali tersungkur karena melihat kenikmatan dunia, mencoba sedikit merasakannya? Ataukah kita termasuk orang yang sudah sampai di separuh perjalanan, dan berniat membelokkannya karena sudah terlalu capek. Terlalu berat dengan agenda dakwah. Terlalu merasa dikorbankan. Terlalu besar pengorbanan yang dikeluarkan: dana, tenaga, pikiran,dll. Na’udzubillah.

 

Sampai dimanapun tahapan kita, satu yang terbaik adalah kita terus maju dengan pasti. Walau kita lambat atau terlambat, tapi kalau kita menjalankannya tidak setengah-setengah (all out), tidak tolah-toleh, maka insyaallah kemenangan hati kan kita raih. Saat ini, tidak ada kata terlambat. Seberapapun usia kita, tingkat pendidikan kita, tidaklah mengurangi rasa dan keinginan untuk melakukan kebaikan. Lakukan sekarang juga. Saat ini. Hari ini. Jam ini. Dan detik ini juga. Semoga perubahan yang kita lakukan sekarang ini, dapat memberikan dampak yang terbaik bagi kejayaan Islam kedepannya.

 

Amiin.

Allohu a’lam bishshowwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s