Wakaf Pohon Karet untuk Atasi Kemiskinan

Tanpa disengaja, Tabung Wakaf Indonesia (TWI) Dompet Dhuafa Republika me-launching program Wakaf Pohon bulan Juni ini. Tanpa disengaja pula pada 5 Juni ini adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Gathuk, (ketemu/cocok) momennya. Tetapi program ini sebetulnya sudah sejak enam bulan lalu digagas.

Bicara lingkungan hidup, erat kaitannya dengan kemiskinan. Muara kemiskinan di berbagai belahan bumi salah satu sebab fundamentalnya karena tangan-tangan jahat manusia merusak lingkungan hidup dan menguras sumber daya alam tanpa perikemanusiaan. Padahal Islam mengajarkan manusia harus hidup selaras dengan alam.

Menurut Rois A’am Nahdlatul Ulama, Prof KH Ali Yafie, Dalam Alquran ada ayat yang mengatakan ”Laa tufsiduu fil ardhi ba’da ishlahiha (jangan merusak alam ini, merusak bumi ini sesudah ditata sedemikian baik). Sekarang orang mengatakan teori keseimbangan, itu sebenarnya yang dimaksud dengan kata-kata ba’da ishlaahiha. Jadi kalau berbicara mengenai lingkungan alam, itu bagi Islam sejak awal sudah dibicarakan. Dunia Barat, dunia modern baru ribut dengan masalah lingkungan alam baru di penghujung abad ke-20. Padahal sebelumnya mereka sudah merusak alam. (REPUBLIKA, 9/2).

Pun, bagi seorang muslim yang memahami makna rabbal’alamin dan rahmatan lil’alamin dengan baik, sudah pasti dia tidak akan merusak alam lingkungan. Bahkan belum ada sejarahnya umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW merusak alam. Bahkan, dalam pelaksanaan ibadah haji, seseorang yang berihram dilarang untuk mencabut pohon atau tidak boleh membunuh binatang.

Demikian agung Islam menata harmonisasi alam dengan manusia ini. Namun realita yang terjadi hari ini, perusakan lingkungan hidup makin tak terkendali. Pembalakan hutan terjadi di mana-mana. Manusia sudah menempatkan diri sebagai musuh alam yang menghancurkan dan merusak. Itu artinya pemiskinan terus terjadi tidak hanya oleh sistem negara yang korup tapi juga oleh dampak alam yang makin hancur.

Bahkan laporan Human Rights Watch tahun 2001 memaparkan dengan sangat jelas keterkaitan antara kemiskinan, perusakan sumber daya alam, pelanggaran hak-hak asasi manusia dengan konflik antarkomunitas, antarmasyarakat dan aparat, serta antarnegara. Gejala ini di Indonesia makin tampak jelas.

Sejahtera dengan Karet
Apa yang disampaikan Human Rights Watch itu, terutama kaitan kemiskinan dengan perusakan sumberdaya alam memang benar adanya. Sebagaimana ketika TWI menyisir lokasi alam yang cocok untuk program wakaf pohon, dua hal itu selalu nyata di daerah-daerah yang alamnya rusak. Bermula dari situlah TWI ingin memfasilitasi masyarakat turut ambil bagian menyelamatkan alam sekaligus menyelamatkan masyarakat di sekitar alam itu dari himpitan kemiskinan.

Desa Lubuk Tuba, Kecamatan Pseksu, yang berada di pinggir aliran sungai Kikim, Lahat, Sumatera Selatan menjadi lokasi program ini. Desa yang dihuni 72 KK ini dipilih karena punya daya tarik tersendiri. Masyarakatnya merupakan warga Suku Kikim asli Lahat. Berbincang lahat, bagi yang kerap melintas jalur Sumatera, lokasi ini dikenal cukup rawan keamanan. Terutama di daerah Tebing Tinggi.

Di desa Lubuk Tuba, masyarakat menyediakan lahan hutan siap ditanam pohon seluas 200 hektar dari 700 hektar hutan yang ada. Dari data dinas pertanian Kabupaten Lahat, bumi lahat sangat cocok ditanami pohon karet. Ibarat gayung bersambut, warga Lubuk Tuba yang menggantungkan hidup pada alam sejak lama mengidamkan lahannya yang gundul dijadikan kebun karet.

“Di Lahat ini, karet sangat menjanjikan. Hasilnya sudah teruji, banyak transmigran sukses ekonominya dari bertani karet ini. Tapi warga saya karena keterbatasan modal dan pengetahuan tidak bisa memanfaatkan alam ini. Kami terus terang tidak mau hidup terbelakang terus, kami bertekad untuk maju”, kata Surnaidi (32), Kepala Desa Lubuk Tuba.

Tatkala niat TWI untuk program wakaf pohon karet ini disampaikan di depan warga Lubuk Tuba, sambutan mereka sangat antusias. Bahkan mereka telah menyediakan lahan dan berjanji siap menjalankan amanah wakaf ini.

Menurut Direktur TWI, Herman Budianto, program wakaf pohon karet ini amat mudah prosesnya. Secara teknis pelaksanaannya, TWI sudah memiliki pendamping masyarakat yang sudah melebur dengan masyarakat. Pendamping itu juga menguasai dengan baik teknis bertanam karet hingga pemasaran hasilnya.

“Dari infrastruktur kami sudah siap. Tinggal kami memasyarakatkan program baik ini pada masyarakat. Dalam satu hektar lahan ditanami 500 pohon karet. Biaya dari persiapan lahan, penanaman, dan perawatan selama lima tahun hanya Rp 25 juta per hektar. Setelah usia karet lima tahun karet baru bisa mulai dipanen getahnya. Jadi total untuk 200 hektar lahan butuh dana wakaf Rp 5 miliar”, tutur Herman.

Dari hasil yang kelak dipetik, karet menjanjikan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pengalaman petani karet di Lahat, dalam sebulan mereka bisa panen getah 15 kali. Untuk satu hektar lahan dapat menghasilkan paling sedikit 20 kg getah karet dengan harga Rp 7.000,- Jika dihitung, 20 x 7.000 mereka sekali panen dapat memperoleh uang Rp 140.000,- x 15 kali panen total yang mereka bisa peroleh sebulan Rp 2.100.000,- Penghasilan Rp 2.100.000,- per bulan bagi orang desa sudah sangat besar. Itu baru satu hektar. Program ini bukan utopis. Dalam survei yang dilakukan TWI di Lahat, hitungan ini sangat benar adanya. Maka tak salah jika program wakaf pohon karet ini dikata sebagai menyelamatkan alam sekaligus menyelamatkan masyarakat dari kemiskinan.

Bagi pembaca yang peduli pada nasib alam yang sudah rusak diikuti kemiskinan masyarakatnya, sangat tepat ambil bagian sebagai wakif (yang mewakafkan). Program ini nyata di dunia dan akhirat. Kita masih sempat melihat wakaf kita menyelamatkan alam dan menyejahterakan orang miskin. Kelak di akhirat pahala wakaf akan mengalir abadi.

Tunggu apalagi. Mari bergabung selamatkan alam dan orang miskin bersama Tabung Wakaf Indonesia. Pembaca dapat menghubungi TWI (021-7211035) dan bertanya lebih lanjut pada sumbernya, Direktur TWI, Herman Budianto (081319626630).

Sumber: http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=295881&kat_id=485

2 responses to “Wakaf Pohon Karet untuk Atasi Kemiskinan

  1. program yg bagus perlu ada suport sistem dari pemerintah,agar program ini dapat terlindungi dari para mafia karet dan pemegang hph , sebaiknya kerja sama dgn pihak perbankan,dan LBH setempat,menjaga segala kemungkinan di belakang hari.

  2. wah bagus sekali mudah2 an banyak investor yg mau berbagi untuk kemajuan masyarakat kita ….amiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s