Etika Beramar Ma’ruf Nahi Munkar

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran:104)

Di antara kewajiban asasi dalam Islam adalah kewajiban melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, suatu kewajiban yang dijadikan oleh Allah Swt. sebagai salah satu dari dua unsur pokok keutamaan dan kebaikan umat Islam. Sebagaimana halnya Allah Swt. memuji orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka Allah Swt. mencela orang-orang yang tidak menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Allah Swt. berfirman, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan melampuai batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS Al-Maidah: 78-79).

Dengan demikian, seorang Muslim bukanlah semata-mata baik terhadap dirinya sendiri, melakukan amal saleh dan meninggalkan maksiat serta hidup di lingkungan khusus, tanpa peduli terhadap kerusakan yang terjadi di masyarakatnya. Muslim yang benar-benar Muslim adalah orang yang saleh pada dirinya dan sangat antusias untuk memperbaiki orang lain. Dialah yang digambarkan oleh Allah Swt. dalam QS Al-‘Ashr,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS Al-‘Ashr: 1-3).

Tidak ada keselamatan bagi seorang Muslim dari kerugian dunia dan akhirat, kecuali dengan melakukan tawashi bil haq dan tawashi bish shabr yang biasa diistilahkan amar ma’ruf nahi munkar. Maka setiap kemungkaran yang terjadi pada suatu masyarakat Muslim hanyalah disebabkan oleh kelengahan masyarakat Muslim itu sendiri.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw. besabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Maka barangsiapa tidak mampu (mengubah dengan tangannya), hendaklah ia mengubah dengan lisannya, dan barangsiapa tidak mampu (mengubah dengan lisannya), hendaklah ia mengubah dengan hatinya, tetapi yang demikian itu adalah selemah-lemah iman” (HR Muslim).

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa mengubah kemungkaran merupakan kewajiban setiap Muslim. Sesuai dengan urutannya, setiap Muslim hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk menghentikan kemungkaran dengan tangannya. Bila tidak mampu dengan tangan, maka dengan lisannya. Bila tidak mampu juga, maka cukuplah hati kita mengingkari dan menolaknya, bukan justru mendukungnya.

Namun, kebanyakan umat Islam saat ini kurang peduli dengan kemungkaran yang merebak di masyarakatnya. Atau ia langsung memilih alternatif ketiga, yaitu mengubah kemungkaran dengan hatinya, padahal ia belum mencoba mengubah dengan tangannya atau dengan lisannya.

Dalam konteks amar ma’ruf nahi munkar, ma’ruf adalah maa ‘arofahu al-aqlu wasy-syarru’ (sesuatu dianggap ma’ruf bila seusai dengan ajaran Islam dan akal), sehingga ukuran kebaikan itu tidak terletak pada subyektifitas perorangan. Kita sering mendengar sesuatu baik, akan tetapi tidak jelas baik menurut siapa. Baik dalam mustholahul Islami adalah baik menurut Allah dan baik menurut akal. Sedangkan al-munkar adalah maa ankaro ‘alaihi aqlu wasy-syar’ (sesuatu yang diingkari oleh akal dan Islam). Jadi amar ma’ruf nahi munkar itu dua istilah terminologi dalam Islam, sehingga cara memahaminya harus dikembalikan kepada Islam itu sendiri.

Dalam QS Ali Imran: 110, Allah Swt. berfirmah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk mansia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah …”

Jadi agar menjadi yang terbaik, maka kita harus berani di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perbaikan di segala bidang kehidupan. Dengan menjadi umat terbaik, maka kita bisa memelihara kehidupan manusia dari berbagai macam keburukan dan kerusakan, baik keburukan dalam akhlaq, keburukan dalam sistem ekonomi, keburukan dalam dunia politik, kerusakan dalam dunia pendidikan, dan lain sebagainya. Upaya pemeliharan yang harus kita lakukan adalah dengan senantiasa menggulirkan amar ma’ruf nahi munkar. Dan agar upaya amar ma’ruf nahi munkar ini berlangsung dengan baik, maka kita harus memiliki kekuatan yang memadai. Tanpa dukungan kekuatan yang memadai, sebuah jama’ah akan mengalami kesulitan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan sempurna.

Kekuatan yang dimaksudkan di sini bukan hanya berupa senjata saja, tapi yang lebih penting adalah kekuatan ruhiyah (kekuatan mentalitas). Dengan kondisi ruhiyah yang baik dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kita tidak akan dikendalikan oleh perasaan kita. Ketika seorang da’i dalam berdakwah dikuasai oleh perasaannya, akan mudah merasa tidak enak ketika harus berdakwah kepada orang tuanya, atau kepada saudaranya, atau kepada mantan gurunya. Kita harus merasa lebih tidak enak kepada Allah kalau kita tidak berdakwah.

Keketapan Allah Swt. untuk menjadi umat Islam sebagai umat terbaik bukan merupakan basa-basi dari Allah Swt. Umat Islam memang umat terbaik, tapi itu semua membutuhkan kerja nyata dan pengorbanan. Karena keterbaikan kita bukan karena faktor keturunan, meski kita dilahirkan dalam keluarga Muslim. Justru ke-Musliman kita harus senantiasa kita kembangkan sehingga akhirnya benar-benar bisa menjadi yang terbaik. Jangan sampai kita mempunyai pemahaman seperti orang-orang Ahli Kitab. Mereka merasa yang terbaik bukan karena kualitas keimanan kepada Allah Swt., akan tetapi karena mereka merasa keturunan Yahudi dan Nasrani.

Mereka menganggap bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah bangsa pilihan. Pemahaman seperti ini masih melekat sampai sekarang, terutama pada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu penyakit orang Yahudi ini jangan sampai menular pada umat Islam. Jangan sampai ada seorang Muslim yang menganggap dirinya terbaik bukan karena kualitas keimanannya kepada Allah, akan tetapi karena ia keturunan seorang Muslim. Padahal kemuliaan dalam pandangan Islam bukan ditentukan oleh faktor keturunan, akan tetapi karena ketaqwaannya kepada Allah sesuai dengan firman-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat:13).

Jadi, menjadi umat terbaik bukan karena faktor keturunan, akan tetapi karena adanya amal yang produktif dalam rangka menjaga kehidupan umat manusia dari kemungkaran-kemungkaran dan dalam rangka melakukan amar ma’ruf, yang semuanya dilandasi oleh keimanan.

Dalam sebuah ayat, Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah: 35).

Dalam ayat ini, Allah Swt. menyuruh kita untuk mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. kemudian berjihad dengan menggunakan wasilah itu sampai Allah Swt. memberikan kemengan dunia dan akhirat.

Kalau ayat ini kita padukan dengan QS Ali Imran: 104 di atas, maka kita akan memahami bahwa Allah Swt. menyuruh kita mencari atau membuat sebuah wasilah dimana dengan wasilah itu kita dapat berjihad dengan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar hingga Allah Swt. memberikan kemenangan kepada kita.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, wasilah memiliki dua arti. Pertama, wasilah berarti alat, usaha yang dapat mencapai tujuan. Kedua, wasilah berarti derajat yang tertinggi di surga yang disediakan untuk Nabi Muhammad Saw. Hal ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam sabdanya,

“Jika kalian bersalawat untukku, maka mintakan kepada Allah untukku wasilah. Sahabat bertanya, ‘Apakah wasilah itu ya Rasulullah?’ Jawab Nabi Saw., ‘Tingkat yang tetinggi di surga, tidak akan dicapai oleh seseorang, dan aku berharap semoga akulah orangnya” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menetapkan empat syarat melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Pertama, perkara tersebut disepakati kemungkarannya. Artinya, kemunkarannya ditetapkan berdasarkan nash syara’ yang tegas dan jelas, atau berdasarkan kaidah-kaidah yang qath’i setelah melalui penyelidikan. Perkara tersebut adalah sesuatu yang jelas-jelas keharamannya dimana pelakunya berhak mendapat siksa, baik berupa melakukan sesuatu yang dilarang, maupun meninggalkan sesuatu yang diperintahkan. Baik yang termasuk dosa kecil maupun dosa besar.

Kedua, kemunkaran dilakukan secara terang-terangan atau dapat dilihat berdasarkan bukti-bukti yang jelas dan benar. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw., “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran …” Mencegah kemungkaran harus berdasarkan penglihatan mata, bukan karena mendengar dari orang lain.

Ketiga, adanya kemampuan bertindak untuk mengubah kemungkaran. Hal ini juga berdasarkan hadits yang sama. Siapa yang tidak mampu mengubah dengan tangan dan lisannya, maka cukuplah baginya menolak kemungkaran dengan hatinya. Biasanya yang mempunyai kemampuan ialah penguasa di wilayah kekuasaannya, misalkan suami terhadap istri, ayah terhadap anak-anaknya, ketua sebuah organisasi terhadap anggotanya, dan pemerintah terhadap rakyatnya.

Keempat, tidak dikhawatirkan akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Misalkan, pencegahan terhadap sebuah kemungkaran menimbulkan fitnah yang dapat memicu pertumpahan darah. Hal ini didukung oleh hadits Nabi Saw., “Kalau bukan karena kaummu baru terentas dari kemusyrikan, niscaya saya bangun Ka’bah di atas pondasi yang dibangun Ibrahim” (HR Bukhari).

Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh Syamsu Hilal

2 responses to “Etika Beramar Ma’ruf Nahi Munkar

  1. Ass wr wb
    Setuju,akhi. Amar ma’ruf nahi munkar adalah amalan wajib umat muslim. Kita harus menjalankan kewajiban ini sebaik baiknya sesuai dengan petunjuk rasulullah SAW.
    Berjuang terus,akhi. aku mendukungmu!

  2. Aaw,

    MARAHIL AT-TAFA’UL BISY-SYAHADATAIN
    TAHAPAN BERINTERAKSI DENGAN DUA KALIMAT SYAHADAT

    Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kecintaan untuk mendapatkan apa yang dicintai sebagai jalan; yang menciptakan ketaatan dan ketundukan kepada-Nya berdasarkan ketulusan cinta sebagai bukti, yang menggerakkan jiwa kepada berbagai bentuk kesempurnaan sebagai sugesti untuk mencari dan mendapatkan cinta itu. Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membalikkan hati seperti yang dikehendaki dan seperti yang tidak dikehendaki menurut kekuasaan-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kepercayaan-Nya untuk menerima wahyu, duta antara dia dan Makhluk-Nya.

    Amma ba’d.

    “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. (TQS. At-Taubah[9]: 105).

    Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini masalah yang amat lumrah dalam sesuatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia. Sebagai perwujudan pengagungan atau perhatian atau luapan kecintaan kepadanya. Yang pertama, seperti singa dan pedang; yang kedua, seperti bencana besar; dan yang ketiga, seperti arak yang memabukkan. Tiga pengertian ini menyatu di dalam cinta. Sehingga tidak heran jika mereka mempunyai hampir enam puluh istilah untuk cinta, diantaranya yaitu; kasih sayang, hasrat, keinginan, kerinduan, cinta, penghambaan, membutuhkan, sulit tidur, tunduk, tidak waras, dan masih banyak istilah-istilah yang lainnya. Bahkan hingga ada ungkapan ‘cinta itu buta’, ‘cinta itu gila’. Ada yang berpendapat, artinya hati yang buta untuk melihat selain orang yang dicintai, tuli untuk mendengar selainnya, seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli”. (Diriwayatkan Ahmad)

    Ada pula yang berpendapat, artinya kecenderungan secara total kepada orang yang dicintai, kemudian engkau rela mengorbankan diri, nyawa dan hartamu demi dirinya, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan.1 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal) ”. (TQS. Al Baqarah[2]: 165)

    [106] yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

    Allah Ta’ala berfirman;

    “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal ”. (TQS. Al Anfaal[8]: 2)

    [594] Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.
    [595] dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

    Allah Ta’ala juga berfirman,

    “ Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik ”. (TQS. At Taubah[9]: 24)

    Kecintaan kita sebagai hamba mengandung konsekuensi untuk Ridha. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya ”. (TQS. Al Baqarah[2]: 207)

    Keridhaan kita diwujudkan untuk (1) Allah Subhanahu wa Ta’ala, (2) agama Islam, serta kepada (3) Muhammad sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    1. Keridhaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya ”. (TQS. Al Baqarah[2]: 207)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan ”. (TQS. Al Lail[92]: 20-21)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap ”. (TQS. Alam Nasyrah[94]: 8)

    2. Keridhaan Islam sebagai agama.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya ”. (TQS. Ali ‘Imran[3]: 19)

    [189] maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman;

    “ Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di
    akhirat termasuk orang-orang yang rugi ”.
    (TQS. Ali ‘Imran[3]: 85)

    3. Keridhaan kepada Muhammad sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ”. (TQS. Al Ahzab[33]: 21)

    Keridhaan kita terhadap tiga hal di atas akan membentuk celupan/shibghah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal ini difirmankan di dalam kitab-Nya;

    “ Shibghah Allah[91]. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah ”. (TQS. Al Baqarah[2]: 138)

    [91] Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman;

    “ Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya ”. (TQS. An Nisaa’[4]: 125)

    Celupan/shibghah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membentuk pengaruh. Pengaruh-pengaruh yang akan ditimbulkannya akan berdampak, baik dalam hati, dalam akal maupun dalam jasad.

    1. Shibghah dalam hati.

    Shibghah di dalam hati akan membentuk keyakinan yang mantap sehingga akan memantapkan niat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “ Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (TQS. Asy Syu’araa’[26]: 89)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (TQS. Ar-Ra’d[13]: 11).

    Pemecahan yang benar tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan pemikiran yang cemerlang tentang alam semesta, manusia dan hidup. Islam telah menuntaskan problematika pokok ini dan dipecahkan untuk manusia dengan cara yang sesuai dengan fitrahnya, memuaskan akal serta memberikan ketenangan jiwa. Islam dibangun di atas satu dasar, yaitu aqidah. Aqidah menjelaskan bahwa di balik alam semesta, manusia dan hidup, terdapat pencipta (al-Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya, serta yang telah menciptakan segala sesuatu lainnya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwasannya Pencipta telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Ia bersifat wajibul wujud, wajib adanya, sebab kalau tidak demikian, berarti ia tidak mampu menjadi Khaliq. Ia bukanlah makhluk, karena sifat-Nya sebagai Pencipta memastikan diri-Nya bukanlah makhluk. Pasti pula bahwa Ia mutlak adanya, karena segala sesuatu menyandarkan wujud atau eksistensinya kepada diri-Nya; sementara Ia tidak bersandar kepada apapun.2 Sehingga menjadi mantaplah hati.

    2. Shibghah dalam akal.

    Sibghah dalam akal akan membentuk pola pikir individu. Pemikiran yang timbul dari shibghah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan muncul di benak seseorang. Baik melalui wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diperintahkan untuk mendakwahkannya atau dari kejeniusan yang nampak pada diri orang itu. Pemikiran yang muncul dalam benak manusia melalui wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ideologi(mabda) yang benar. Karena bersumber dari Al-Khaliq, yaitu Pencipta alam, manusia dan hidup, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Pemahaman manusia terhadap proses lahirnya peraturan selalu menimbulkan perbedaan, perselisihan dan pertentangan, serta selalu terpengaruh lingkungan tempat ia hidup. Sehingga membuahkan peraturan yang saling bertentangan, yang mendatangkan kesengsaraan bagi manusia. Oleh karena itu peraturan hidup yang muncul dari benak pemikiran ideologi(mabda) yang salah/selain dari Islam(jahiliyyah), adalah peraturan hidup yang salah. Sehingga individu yang telah ter-sibghah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu mengambil dari Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    “ Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘andai saja kami lubangi(kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamatlah semuanya ”. (HR. Bukhari).

    Shibghah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat kebiasaan kaum muslimin berhukum kepada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kebiasaan kaum muslimin pada masa shahabat adalah mengambil sendiri hukum-hukum syari’at Islam dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para Qadhi ketika menyelesaikan perselisihan di tengah-tengah masyarakat pada saat itu, selalu menggali hukum sendiri dalam setiap peristiwa yang mereka hadapi. Pada masa kepemimpinan Umar bin Kathab radhiyallahu ‘anhum pernah melegalisasikan hukum tanah yang statusnya sebagai ghanimah(harta rampasan perang) menjadi milik Baitul mal yang tetap dipegang oleh pemiliknya.

    Dengan demikian para Khalifah/amirul mu’minin selalu melegalisasikan berbagai hukum tertentu. Khalifah Harun Al Rasyid, misalnya, telah melegalisasikan hukum-hukum yang tercantum dalam buku “Al-Kharaj” (karangan Al-Qadli Abu Yusuf) yang menyangkut masalah-masalah ekonomi, kemudian memerintahkan rakyat untuk melaksanakan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Berkaitan dengan hal ini, terdapat berbagai kaidah syara’ yang sangat masyhur diantaranya;

    Sulthan/Khalifah, berhak melegalisasikan peraturan (perundang-undangan) sesuai dengan persoalan-persoalan baru yang baru muncul.

    Perintah Imam dapat mengatasi perselisihan.

    Perintah Imam harus dilaksanakan, baik secara lahir maupun bathin.2
    3. Shibghah dalam jasad.

    Shibghah dalam jasad akan membentuk perilaku yang akan mengarah pada suatu amal, baik amalan sunnah, haram, mubah, makruh, syubhat dan wajib. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibagi menjadi dua macam. Ada yang termasuk perbuatan-perbuatan jibiliyah, -yaitu perbuatan yang biasa dilakukan manusia-, dan ada pula perbuatan-perbuatan selain jibiliyah. Yang tergolong perbuatan jibiliyah, seperti berdiri, duduk, makan, minum dan lain sebagainya. Tidak ada perselisihan bahwa status perbuatan tersebut adalah mubah, baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun bagi umatnya. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan tersebut tidak termasuk dalam kategori mandub/sunnah.

    Status penjelas yang terdapat dalam perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan maupun indikasi yang menerangkan bentuk perbuatan, dapat mengikuti hukum-hukum yang telah dijelaskan, apakah itu wajib, mandub atau mubah –sesuai dengan arah penunjukkan dalil-.

    Sedangkan perbuatan-perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di dalamnya tidak terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan penjelas –bukan penolakan dan bukan pula ketetapan- maka dalam hal ini perlu diperhatikan apakah di dalamnya terdapat maksud untuk bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) atau tidak. Jika di dalamnya terdapat keinginan untuk bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka perbuatan itu termasuk mandub. Seseorang akan mendapatkan pahala atas perbuatannya itu dan tidak mendapatkan sanksi jika meninggalkannya. Misalnya shalat dluha. Dan jika di dalamnya tidak terdapat keinginan untuk bertaqarrub, maka perbuatan tersebut termasuk mubah.2 Shibghah dalam jasad akan selalu bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mencontoh perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang wajib, sunnah maupun yang mubah. Shibghah dalam jasad juga akan selalu membentuk perilaku menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Islam(haram), yang dibenci(makruh) maupun yang syubhat(tidak jelas hukumnya).Shibghah jasad akan menciptakan pelaksanaan yang baik dan benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
    “ Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah[157] (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam ”. (TQS. Al Baqarah[2]: 251)

    [157] yang dimaksud di sini ialah kenabian dan Kitab Zabur.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman;

    “ Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya ”. (TQS. Al Qashash[28]: 26)

    WalLâhu a’lam bish-shawâb [].

    Catatan kaki;
    1 Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Jakarta; Darul Falah, cetakan ke-12, syawwal 1424 H/2003 M.
    2 Syekh Taqiyuddin An-Nabhani. Peraturan Hidup dalam Islam. Bogor; Pustaka Thariqul ‘Izzah, cetakan ke-2(revisi), Desember 2001.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s