Makna Iman

Secara etimologi

Iman berasal dari kata al-amn (rasa aman). Oleh karenannya Allah berfirman:

“orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan.” (Al An’aam: 82).

Iman dan rasa aman saling beriringan. Rasa aman disini bukan sekedar rasa aman di akhirat saja, namun ia adalah rasa aman di dunia dan di akhirat. Setiap kali manusia kuat iman dan amalnya, maka rasa aman mereka lebih kuat dan lebih kokoh. Makna iman diambil dari kata al-amn (rasa amana). Oleh sebab itu kalangan ahli ilmu mengatakan: “Iman adalah pembenaran.” Hal ini karena orang yang selalu membenarkan merasa tenang dan menetapkan atas apa yang dikabarkan kepadanya. Maka ia adalah orang yang aman dari kedustaan atau kebingungan. Oleh sebab itu, iman secara etimologi adalah at-tashdiq (pembenaran).

Secara syara’

Makna iman secara syara’ bukan sekedar pembenaran, namun iman adalah pembenaran yang diikuti penerimaan dan ketaatan. Sebab kami berpendapat bahwa sekedar pembenaran tidak ccukup untuk memaknai iman. Contohnya Abu Thalib yang berkomentar tentang diri Rasulullah saw: “Tidakkah mereka mengetahui, bahwa anak kami bukan seorang pendusta. Bagi kami, ia tidak mengucapkan suatu kebatilan.”

Pembenaran ini tidak bermanfaat baginya. Karena tidak ada penerimaan dan ketaatan darinya. Rasulullah saw. Telah mengabarkan bahwa beliau akan memintakan syafa’at baginya kepada Allah, sehingga ia berada di permukaan naar. Ia akan diberi dua sandal yang dapat mendidihkan otaknya. Padahal azab tersebut adalah yang paling ringan bagi penduduk naar [1]. Jadi, sekedar pembenaran tidaklah cukup untuk memaknai iman meskipun seseorang membenarkan bahwa alam semesta memiliki pencipta, pengatur, pemelihara dan penyusun. Hal ini tidak mencukupi kandungan iman, sebab hal ini telah diakui sendiri oleh orang-orang musyrik yang diperangi oleh Nabi saw. Sehingga wanita dan harta mereka menjadi rampasan. Seandainya iman semacam ini sudah cukup, niscaya Rasulullah saw. Tidak memerangi mereka.

Jadi, makna iman secara syara’ harus diikuti dengan penerimaan dan ketaatan. Oleh karenanya iman adalah ucapan dan amalan; ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan, dan anggota badan.

[1] Shahih Muslim hadits no. 212

Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s