Antara Tawakal dan Ikhtiar

Tawakal kepada Allah mengandung
pengertian, berusaha mengerahkan
segenap upaya untuk berikhtiar namun
(pada waktu yang sama) hati diliputi
satu hal, bahwa tidak akan pernah
tercapai sesuatu kecuali atas kehendak
Allah SWT. Seakan-akan di sana ada dua
kekuatan gerak tangan berikut anggota
tubuh yang lain dan gerak hati.
Misalkan saja Anda mempunyai suatu
permasalahan atau sedang mencari
pekrjaan, Anda pergi menemui seseorang.
Ketika Anda berada di depannya, hati
Anda berkata, “Demi Allah, tidak akan
tercapai (maksud ini) kecuali dengan
izinnya.” Itulah yang dinamakan
tawakal, dan itulah yang mendorong kita
melakukan sholat istikharah.
Sebagian orang memiliki pemahaman yang
keliru. Mereka mengeluhkan, “Meski
sudah melaksanakan sholat istikharah,
aku tetap saja tidak memimpikan sesuatu
dalam tidurku.”
Siapa yang menyuruh Anda melakukannya
sebelum tidur? Siapa yang bilang jika
setelah shalat istikharah Anda akan
bermimpi? Permasalahannya bukan seperti
yang Anda bayangkan, yang dimaksud
shalat istikharah , anda melaksanakan
shalat dua rakaat lalu berdoa dengan
doa ini,

“Ya Allah, Aku mohon dipilihkan sesuatu
dengan ilmu Mu dan mohon kekuatan
dengan kuasaMu. Aku memohon karuniaMu
yang besar, karena Engkau Maha Kuasa
dan aku tak mempunyai kemampuan; Engkau
mengetahui dan aku tak punya
pengetahuan, Enkaulah yang mengetahui
perkara-perkara yang gaib. YA Allah,
jika urusan ini baik bagi agamaku,
kehidupanku dan kesudahanku menurut
ilmuMu atau katakan: baik dalam waktu
dekat atau nanti, berikanlah kemampuan
kepadaku dan mudahkanlah perkara itu
bagiku dan berkahilah aku padanya. Akan
tetapi, jika menurut ilmu Mu perkara
ini berakibat buruk bagi agamaku,
kehidupanku dan akhir hayatku-atau
katakan : baik dalam waktu dekat maupun
nanti- maka palingkanlah aku darinya
dan jauhkanlah pula ia dariku serta
berilah aku perkara yang baik dan
ridhailah aku dengannya.”
Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya ia
menyebutkan apa kebutuhannya.”

Setelah melakukan sholat dua rakaat dan
berdoa dengan doa diatas, jika Anda
merasakan ketentraman dan ketenangan
batin, Anda akan didorong untuk
mengambil pilihan. Allah telah
memilihkan kebaikan bagi Anda, bukan
keburukan.
Anda telah melaksanakan sholat
istikharah, lantas apa yang Anda
lakukan setelah itu?
Berikhtiar dan lakukanlah usaha dengan
optimal. Jika anda misalnya, hendak
bepergian keluar negeri, berurusanlah
dengan kedutaan sambil menanyakan, “Apa
saja yang dibutuhkan?
Dengan usaha itu Anda akan tenang dan
nyaman, karena Anda telah bertawakal
kepada Allah dalam segala urusan Anda.
Layakkah orang yang bertawakal itu
bersedih hati?

Sekali lagi, bertawakallah kepada
Allah. Serahkan segala urusan
kepadaNya. Janganbersedih dengan
rejeki, masa depan, atau pekerjaan.
Yakinlah dan katakanlah, “Ya Allah, aku
ridha dengan apa yang Kau berikan dan
Kau pilihkan bagiku.”

Para ulama berkata, “Barang siapa yang
memakan uang haram walau hanya sedikit,
maka ia tidak termasuk orang yang
bertawakal (karena kelak ia akan
mendatanginya), dan barangsiapa
menangisi anak-anaknya saat ia sekarat,
bukanlah ia termasuk orang yang
bertawakal (karena lupa bahwa ia
meninggalkannya untuk menghadap Allah
SWT)

(Romantika Yusuf, Amru Khalid,
Maghfirah Pustaka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s