Prioritas Pemuda

Orang yang mau mengamati kehidupan ini dalam berbagai aspeknya –baik aspek materil maupun imateril, pemikiran maupun sosial, ekonomi, dan politik, atau lainnya—maka akan menemukan kekacauan yang serius dalam hal neraca prioritas.

Dalam kaitannya dengan aktivitas pemuda misalnya, kita melihat kenyataan bahwa olahraga selalu memperoleh perhatian yang lebih dari pada latihan intelektual (intellectual exercise). Seolah-olah pengertian pemeliharaan aset pemuda hanya identik dengan pemeliharaan aspek fisik mereka. Apakah manusia itu fisiknya ataukah rasio dan psikisnya?

Akan tetapi, kita lihat sekarang bahwa manusia ternyata lebih mementingkan kekuatan jasmani dari pada segala sesuatu. Sekarang, tidak ada isu yang lebih ramai diperbincangkan selain berita tentang transfer seorang pemain bola. Terjadi persaingan antara beberapa klub sehingga melonjak harganya sampai berjuta-juta dollar.

Di sisi lain, kita juga melihat kenyataan bahwa ternyata bintang-bintang masyarakat dan nama-nama orang yang dianggap cemerlang di mata mereka bukanlah para ulama, pendidik, pemikir, atau da’I, akan tetapi orang-orang yang mereka sebut sebagai artis, seniman, atlet, dan sejenisnya.

Tidak ada topic yang lebih menarik bagi surat kabar, majalah, televise, dan radio kecuali perbincangan tentang mereka; aktivitas, “kepahlawanan”, petualangan, dan berbagai informasi yang remeh. Sementara informasi lainnya seringkali diabaikan dan dilupakan.

Jika ada seniman meninggal dunia, maka bumi ini serasa bergetar, dan halaman-halaman surat kabar dipenuhi berita seputar itu. Tetapi jika seorang ulama, atau seorang guru besar meninggal, hamper tak seorang pun merasakannya.

Dalam aspek keuangan, dikeluarkan sejumlah besar dana untuk keperluan olahraga, seni, media massa, dan menjaga stabilitas keamanan penguasa yang sering mereka sebut sebagai “stabilitas nasional”, sehingga seseorang tidak dapat menentang atau mempertanyakan “untuk apa ini semua?”

Sementara di sisi lain, sektor pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan bantuan-bantuan pokok mengeluh karena kekurangan dana. Kalaulah ada pengajuan dana untuk mengembangkan sektor ini maka alasan yang muncul adalah tidak ada jatah sehingga perlu adanya penghematan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah seperti apa yang pernah diungkapkan Ibnu Muqaffa’, “Aku tidak pernah melihat suatu pemborosan kecuali di pihak yang lain terdapat hak yang diabaikan.”

Yusuf Qardhawi (Fiqih Prioritas)

One response to “Prioritas Pemuda

  1. Keprihatinan kita bersama pada generasi muda. Namun inti dari semua permasalahan itu memang adalah pada sosial budaya, dan penggunaan kebijakan pemerintah sebagai instrumen rekonstruksi peran sosial pemuda. Sebagai instrumen, kebijakan belum menyatu dengan prakteknya. Tidak ada satu kata dan perbuatan. Jelas sudah penyakit apa yang mendera bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s