Dakwah Profesi

Saya melihat pemuda-pemuda dengan tulus belajar diberbagai fakultas seperti kedokteran, teknik, pertanian, sastra, atau lainnya. Mereka merupakan sekelompok orang yang sukses bahkan menguasai benar dalam bidang masing-masing. Namun, pada akhirnya mereka menggebu-gebu ingin beralih kepada bidang lain dan meninggalkan bidang yang semula telah lama ditekuninya, tanpa sedikitpun merasa sayang. Mereka beralasan bahwa mereka menyibukkan diri dalam urusan dakwah, penyuluhan, dan tablig, padahal pekerjaan mereka yang terkait dengan spesialisasinya merupakan fardu kifayah, yang berarti seluruh umat akan berdosa sekiranya urusan itu tidak ada yang menangani. Sementara itu, mereka sebenarnya dapat menjadikan pekerjaannya sebagai ibadah dab jihad jika dilaksanakan secara sungguh-sungguh, niat yang benar, dan komitmen yang tinggi terhadap hokum-hukum Allah.

Seandainya setiap umat Islam meninggalkan profesinya, lantas siap yang akan menjalankan kemaslahatan-kemaslahatan umat Islam? Ketika Rasulullah saw. diangkat (sebagai rasul Allah), para sahabatpun bekerja dalam berbagai profesi, namun Rasulullah tidak menuntut seorangpun di antara mereka untuk meninggalkan profesi semula agar berkecimpung dalam dakwah. Masing-masing sahabat tetap dalam pekerjaan dan usahanya semula, baik sebelum dan sesudah hijrah. Jika seorang da’i mengajak mereka berjihad dan meminta mereka pergi, mereka pun memenuhi panggilan itu dengan harta dan jiwanya untuk sabilillah.

Yusuf Qardhawi (Fiqih Prioritas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s