Menghidupkan tanah yang mati

Menghidupkan tanah yang mati (ihya al mawat) adalah usaha mengelola lahan yang masih belum bermanfaat menjadi berguna bagi manusia. Pengelolaan tanah yang baik ini erat kaitannya dengan persoalan hajat hidup manusia dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk kesejahteraannya sendiri. Rasulullah saw bersabda:

“Bagi yang memakmurkan sebidang tanah yang bukan menjadi milik seseorang, maka dialah yang berhak terhadap tanah tersebut.”

Hadits ini menjadi dalil akan kepemilikan tanah oleh seorang muslim yang diwajibkan mengelola tanah itu agar bermanfaat bagi hidupnya serta produktif. Ketentuan penggarapan tanah tersebut menurut jumhur ulama tidak berlaku bagi tanah yang telah dimiliki orang lain; atau kawasan-kawasan yang apabila digarap akan mengganggu kemaslahatan umum; misalnya lembah atau lereng yang mengakibatkan tanah longsor atau daerah aliran sungai yang dapat mengakibatkan berubahnya aliran air.

Menghidupkan lahan terlantar (yang tidak produktif) merupakan isu penting hari ini. Lahan-lahan yang terlantar dan tidak produktif di beberapa daerah dan kawasan membuat lahan tersebut tidak bermanfaat dan sia-sia.

Khalifah Umar menetapkan untuk mengambil alih tanah dari pemiliknya andaikata tanah tersebut dibiarkan terlantar selama tiga tahun.

Jumhur ulama berpendapat: kepala negara tidak berwenang memberikan ijin pada penggarap tanah jika hal itu mengganggu kemaslahatan umum dan menimbulkan keributan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s