Menyembunyikan ilmu dan bersifat kikir terhadapnya

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. (Al Hadid: 23-24)

Dan menyembunyikan karunia Allah yang Telah diberikan-Nya kepada mereka. (An Nisa: 37)

Alah menggambarkan mereka sebagai kaum yang kikir, yaitu kikir dalam soal ilmu dan harta, meskipun alur ayat ini menunjukan bahwa yang dimaksud adalah kikir dalam ilmu. Oleh sebab itu, Allah juga menggambarkan mereka dalam banyak ayat sebagai kaum yang menyembunyikan ilmu. Seperti dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang Telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. (Ali Imran: 187)

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,

Kecuali mereka yang Telah Taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah: 159-160)

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (Tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (Al Baqarah: 174)

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami Telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (Al Baqarah: 14)

Allah mensifati bahwa mereka dengan kata-kata “yang dimurkai” itu karena mereka mempunyai kesukaan menyembunyikan ilmu, terkadang karena kikir, terkadang untuk mencari dunia sebagai gantinya, terkadang juga karena takut kalau yang mereka kemukakan, akan berbalik menghujat mereka sendiri. Hal ini telah menimpa sebagian golongan ahli ilmu. Mereka kadang-kadang menyembunyikannya karena kikir atau karena takut orang lain ikut memperoleh keutamaannya. Terkadang pula dikarenakan mengejar kedudukan atau harta. Ia khawatir, kalau ilmu tersebut ditampakkan, akan mengurangi kedudukan sosial mereka atau akan berkurang nilai hartanya. Kadangkala terjadi, ia berlainan pendapat  dengan orang lain. Atau bersengketa dengan satu kelompok yang berbeda pendapat dengannya. Lalu ia menyembunyikan ilmu yang mengandung  hujjah bagi lawannya itu. Meski  ia sendiri  tak yakin kalau lawannya itu salah.

Oleh sebab itu, Abdurrahman bin Mahdi dan ulama lainnya menyatakan: “Para ahli ilmu itu menuliskan setiap hujjah yang menguatkan atau melemahkan mereka. Sedangkan pengikut hawa nafsu hanya menulis hujjah yang menguatkan buat mereka.” Maksud di sini bukanlah menjabarkan hal-hal yang wajib dan  sunnah. Namun tujuannya adalah untuk mengingatkan inti persoalan yang dapat dipahami oleh orang berakal, agar bermanfaat baginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s