Peperangan (2)

Perang Amoria (233 H/838 M)

Setelah Teofel, kaisar Romawi menyerbu beberapa kota Islam yang
berbatasan dengan emperium tersebut dan terjadi berbagai kerusakan
di sana, khalifah Muktashim mengerahkan sebuah pasukan besar untuk
menyerang tentara Bizantium. Kedua pasukan tersebut bertemu di
Ankara, di mana pasukan Muktashim berhasil mematahkan serangan
Teofel dan mereka mengalami kerugian materi yang besar. Beliau
meneruskan penyerangan ke kota Amoria, tempat kelahiran kaisar
Bizantium tersebut. Muktashim melangkah maju ke ibu kota Amoria
bersama panglima Afsyen, mereka berhasil menaklukan Ankara.

Perang Ankara (805 H/1402 M)

Sejak awal abad kesembilan Hijrah, telah terjadi perselisihan antara
sultan Dinasti Mongol dengan sultan-sultan Dinasti Usmani.
Perselisihan ini mendorong Timur Lank memimpin sebuah pasukan untuk
menantang Beyazid II, sultan Usmani. Kemudian pertempuran berkobar
di Ankara yang berakhir dengan kekalahan Beyazid II, sultan Usmani
dan iapun tertawan, kemudian ditandatanganilah perjanjian antara
kedua belah pihak.

Perang Arak (647 H/1250 M)

Setelah pendeta Anusint III membangkitkan semangat orang-orang
Kristen untuk melawan kaum muslimin Andalusia, Yakub bin Abdul
Mukmin dari Daulat Muwahhidi yang memerintah Maroko berhadapan
dengan Alfonso VIII, raja Castilian pada suatu pertempuran sengit di
suatu tempat yang dikenal dengan Arak. Pertempuran itu berakhir
dengan kekalahan pahit tentara Salib dan kaum muslimin menduduki
kembali tempat itu setelah dikuasai pasukan Salib selama 40 tahun.

Perang Badar (2 H/624 M)

Pada tahun kedua Hijriah, Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk
menghadang rombongan dagang Quraisy yang akan melewati pinggiran
kota Madinah. Hal ini dilakukan karena kekejaman Quraisy terhadap
kaum muslimin. Setelah mengetahui rencana kaum Muslimin ini, kaum
Quraisy menyiapkan 1000 serdadu, kemudian berangkat dari Mekah
menuju utara ke kota Madinah untuk menghadang kaum muslimin di
Badar. Meskipun tentara Quraisy berjumlah tiga kali lipat dari
jumlah tentara muslimin tetapi kaum muslimin berhasil meraih
kemenangan yang gemilang atas kaum Quraisy.

Perang Balat Syuhada (Tours) (114 H/732 M)

Pasukan muslimin melangkah maju ke arah Selatan Prancis, melintasi
gunung Pyrenees dan berhasil menduduki kota Bordeaux. Di saat itu
berkecamuklah perang Balat Syuhada antara pasukan muslimin yang
dipimpin oleh Abdur Rahman Ghafiqi dengan tentara Salib yang
dipimpin oleh Karel Martel di dekat kota Poitiers. Dalam perang
tersebut, pasukan Martel meraih kemenangan dan Abdur Rahman Ghafiqi
gugur di medan tempur. Pasukan muslimin mulai terdesak sampai ke
gunung Pyrenees, yang merupakan batas akhir ekspedisi Islam ke Eropa.

Perang Bani Quraizhah (5 H/627 M)

Akibat pelanggaran kaum Yahudi Bani Quraizhah terhadap perjanjian
yang telah disepakati antara mereka dengan Nabi saw, di mana mereka
mengadakan integrasi dengan pasukan sekutu Quraisy, Rasulullah saw
mengerahkan pasukan kaum muslimin untuk menyerang mereka. Setelah
mereka terkepung, akhirnya mereka menyerah dan mereka mempercayakan
kepada Saad bin Muaz untuk memutuskan hukuman yang akan diberikan
kepada mereka. Sa`ad bin Muaz memutuskan hukuman bunuh terhadap kaum
lelaki dan tawanan untuk kaum wanita serta anak-anak mereka.

Perang Bir Kahinah (82 H/702 M)

Setelah kemenangan Hassan bin Nukman pada perang di lembah Adzara
dan memaksa Kahinah mengungsi ke gunung Aures, Hassan terus
mengejarnya sehingga terjadilah pertempuran sengit di sebuah tempat
bernama Bir Kahinah (sumur Kahinah). Dalam pertempuran itu Hassan
meraih kemenangan yang gemilang dan Kahinah berhasil dibunuh.

Perang Daumatul Jandal (5 H/627 M)

Sesampainya berita bahwa di Daumatul Jandal terdapat sebuah
komplotan besar yang terus-menerus melaksanakan teror terhadap orang
yang melewati tempat itu, Rasulullah saw bersama 1000 orang sahabat
berangkat untuk menjumpai mereka. Setibanya Rasulullah saw dan
rombongan, gerombolan tersebut berpencar-pencar dan beliaupun
kembali ke kota Madinah.

Perang Heliopolis (20 H/641 M)

Dalam peperangan ini kaum muslimin meraih kemenangan di bawah
pimpinan Amru bin Ash dan pasukan Romawi yang terkepung di benteng
Babilon-Mesir akhirnya terpaksa menyerah. Kairus Muqauqis, penguasa
Bizantium di Mesir terpaksa menandatangani perjanjian Babilonia
untuk menghentikan pertempuran.

Perang Hittin (583 H/1187 M)

Dalam perang ini kaum muslimin berhasil mendapatkan kemenangan
gemilang atas pasukan Salib. Setelah menguasai Thabriah, dekat
kampung Hittin di Acre, Shalahuddin Ayubi mengepung tentara Salib
semalam dan pada siang harinya menghujani mereka dengan peluru.
Tentara Salib akhirnya terpaksa menerima kekalahan pahit dan Arnat
serta raja Baitulmakdis berhasil ditawan.

Perang Hunain (8 H/630 M)

Di bawah pimpinan Rasulullah saw, pasukan muslimin berhadapan dengan
kaum Hawazin yang dipimpin oleh Malik bin Auf di lembah Hunain. Pada
awal pertempuran, kaum muslimin hampir mengalami kekalahan tetapi
berkat keteguhan Rasulullah saw dan para sahabatnya, akhirnya
pasukan muslimin dapat meraih kemenangan gemilang.

Perang Jamal (36 H/656 M)

Ketika Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam dan Aisyah ra. enggan
membaiat Ali bin Abu Thalib menjadi khalifah, mereka pindah ke kota
Basrah, tempat pendukung mereka berdomisili, sementara Ali bin Abu
Thalib mengerahkan pendukungnya di Kufah berangkat ke Basrah.
Terjadi perang Jamal, di mana pasukan Ali bin Abu Thalib berhasil
mengalahkan penentangnya. Dalam prang itu Thalhah dan Zubair
terbunuh, sementara Aisyah dipulangkan secara terhormat ke kota
Mekah.

Perang Khaibar (8 H/630 M)

Rasulullah saw bersama sahabat-sahabat berangkat untuk menyerang
kaum Yahudi Khaibar, karena tindakan mereka menghasut badui Arab
untuk membangkang terhadap kaum muslimin. Kaum muslimin berhasil
menaklukan Khaibar dan mengadakan perjanjian dengan penduduk
setempat. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan bahwa penduduk
Khaibar berhak tinggal di atas tanah-tanah mereka dengan syarat
mereka harus membayar upeti (jizyah) kepada kaum muslimin.

Perang Khandak (5 H/627 M)

Kaum Quraisy bersama sekutu-sekutu dan kabilah-kabilah lainnya di
Jazirah Arab bergabung untuk memerangi kaum muslimin. Setibanya di
kota Madinah, kaum Yahudi Bani Quraizhah ikut integrasi dengan
pasukan sekutu ini. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berhasil
menerobos masuk ke kota Madinah, berkat adanya hambatan parit
(khandak) yang digali kaum muslimin sebelumnya.

Perang Lembah Adzara (Lembah Virginia) (80 H/699 M)

Setelah kekalahan Kahinah, pemimpin salah satu kabilah Barbar dalam
perang I di Gabes dan didesak mundur sampai ke Barca pada tahun 75
H, Hassan bin Nukman kembali lagi membawa pasukan besar setelah
mendapat bala bantuan dari pemerintahan pusat, khalifah Abdul Malik
bin Marwan. Kedua pasukan itu bertemu kembali di dekat Gabes.
Pertempuran itu dimenangkan oleh Hassan dan Kahinah terpaksa
melarikan diri ke gunung Aures.

Perang Lembah Bakkah (92 H/711 M)

Sesuai dengan rencana penaklukan Andalusia, Musa bin Nushair
menyiapkan sebuah pasukan dengan jumlah 12.000 prajurit yang terdiri
dari suku Arab dan Barbar, di bawah pimpinan Thariq bin Ziad. Di
suatu tempat yang disebut dengan lembah Bakkah, pasukan muslimin
berhadapan dengan tentara Visigoth yang dipimpin oleh raja Roderick.
Pertempuran yang berlangsung selama delapan hari itu berakhir dengan
kekalahan Roderick dan pasukannya porak-poranda.

Perang Manshurah (647 H/1250 M)

Dalam pertempuran ini, tentara Mesir di bawah pimpinan Turan Syah
dapat mengalahkan pasukan Salib VII di Manshurah dan berhasil
menawan raja Louis IX, raja dari Prancis yang sekaligus pimpinan
pasukan Salib yang dipenjarakan di tempat kediaman Ibnu Lukman.

Perang Manzikert (464 H/1071 M)

Setelah sultan Alfa Arselan, penguasa Saljuk, mendengar berita bahwa
kaisar Romanus Diagenes IV dari Bizantium telah menyiapkan sebuah
pasukan besar untuk menyerbu Azerbaijan dan kota-kota Islam di Asia,
sultan Alfa Arselan mencegat pasukan itu di dekat danau Van. Beliau
berhasil mengalahkan tentara Bizantium dan menyandera kaisar Romanus
Diegenes IV setelah pasukannya dicerai beraikan.

Perang Marj Dabiq (922 H/1516 M)

Setelah hubungan antara Daulat Usmani dan Daulat Mamalik memburuk,
Salim I, sultan Usmani, membawa sebuah pasukan lewat Mesir dan Syam
untuk meruntuhkan Daulat Mamalik. Pasukan ini bertemu dengan pasukan
Mamalik di bawah pimpinan Sultan Qansauh Al Ghuri di Marj Dabiq,
Syam. Kemenangan pasukan Usmani pada peperangan ini adalah merupakan
pertanda mulainya penaklukan Usmani ke belahan Timur Arab, di mana
setelah kemenangan itu Daulat Usmani berhasil menguasai Homs, Hama
dan Damaskus.

Perang Nahar (Sardinia) (200 H/815 M)

Di bawah pimpinan Hakam bin Hisyam, pasukan muslimin meraih
kemenangan melawan tentara Salib di pulau Sardinia. Kemenangan ini
diraih setelah armada laut Islam berhasil menundukkan kepulauan
Belyard di laut Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s