Peperangan (1)

Ekspedisi Muktah (8 H/630 M)

Rasulullah saw mengirim surat kepada Syurahbil, kepala suku Bani
Ghassan, berisi ajakan untuk memeluk agama Islam. Surat Rasulullah
saw tersebut ditanggapi dengan penghinaan, bahkan ia membunuh Haris
bin Umair, delegasi Rasulullah saw yang menyampaikan surat tersebut.
Kejadian ini mendorong Rasulullah saw untuk menyiapkan sebuah
pasukan untuk membalas agresi tersebut. Mendengar hal itu, Bani
Ghassan segera meminta bantuan kepada tentara Romawi. Dalam
pertempuran tersebut kaum muslimin di bawah pimpinan Zaid bin
Haritsah, bertemu dengan tentara Romawi yang datang untuk membantu
Syurahbil, kepala suku Bani Ghassan. Dalam pertempuran tersebut
berturut-turut tiga panglima pasukan muslimin mati syahid
masing-masing Zaid bin Haritsah, Jakfar bin Abu Thalib dan Abdullah
bin Rawahah. Setelah pimpinan beralih ke tangan Khalid bin Walid,
dia mengambil siasat untuk mundur.

Pembebasan Yerusalem (583 H/1187 M)

Seusai perang Hittin, Shalahuddin Ayubi mengepung kota Yerusalem
(Baitulmakdis). Setelah lima hari dikepung, akhirnya Yerusalem dapat
dibebaskan, beliau memasuki kota Yerusalem dan mengusir orang-orang
Salib dari sama tanpa melakukan tindak kekerasan, berbeda dengan
tindakan yang mereka lakukan ketika menguasai Yerusalem pada perang
Salib I.

Penaklukan Afrikia/Tunisia (50 H/670 M)

Setelah berhasil memerangi para perampok di Sudan, Uqbah bin Nafi
melanjutkan tugasnya ke Afrikia (Tunisia sekarang) dengan membawa
pasukan berjumlah 10.000 prajurit. Pasukan tersebut memasuki Tunisia
sampai di lembah Qairawan tanpa mendapat perlawanan. Di tempat
terakhir ini, beliau membangun kota Qairawan.

Penaklukan Aljazair (58 H/678 M)

Dinar Abul Muhajir, Emir Afrikia (Tunisia sekarang) berangkat
menyerang kabilah Urbah yang dipimpin oleh Kasilah. Kabilah inilah
yang menantang pasukan Islam dengan dukungan semangat dari pasukan
Bizantium. Pasukan muslimin menyerbu mereka sampai ke pusat-pusat
pemerintahan mereka di Maroko Tengah. Kasilah terpaksa meminta
mengadakan perjanjian dan ia sendiri masuk Islam. Abul Muhajir
kemudian melangkah maju dan berhasil menguasai daerah Tilmisan serta
meruntuhkan aliansi Barbar-Bizantium.

Penaklukan Bukhara (89 H/709 M)

Qutaibah bin Muslim adalah seorang gubernur di Khurasan. Dari sana
ia menyiapkan pasukan untuk menyerang kawasan Trans Oceania,
kemudian terjadi pertempuran di kawasan tersebut. Dalam pertempuran
yang sengit itu, ia berhasil menaklukan beberapa kota, seperti
Khawarazem, Sijistan, Bukhara dan Samarkand. Kemudian ia memerangi
kelompok-kelompok kecil Cina dan mewajibkan mereka membayar jizyah
(upeti) hingga semua kawasan Trans Oceania tunduk dalam kekuasaan
Islam.

Penaklukan Kaisaria (104 H/723 M)

Kota Kaisaria ditaklukan oleh Usman bin Hayyan Al Mari ketika
terjadi perang dengan tentara Romawi pada masa pemerintahan Yazid
bin Abdul Malik.

Penaklukan Kaisaria (19 H/640 M)

Setelah Kaisaria dikepung selama enam bulan, akhirnya Muawiyah
berhasil menaklukan negeri tersebut.

Penaklukan Kawasan Trans Oceania (54 H/673 M)

Ubaidillah bin Ziad, Amir Irak dan kawasan Timur berhasil
menyeberangi sungai Jihun (Oxus) sampai ke daerah Bukhara dan
berhasil menaklukan Ramisytah dan Bekind. Beliau inilah orang Arab
Muslim pertama menyeberangi sungai tersebut. Pada tahun 87 H kawasan
Trans Oceania berhasil ditaklukan oleh Qutaibah bin Muslim pada masa
pemerintahan khalifah Walid bin Abdul Malik. Misi penaklukan ke
kawasan Trans Oceania terus meluas sampai ke delta sungai Jihun
(Oxus). Kemudian Maslamah bin Abdul Malik memimpin pasukan menuju
Azerbaijan dan berhasil menaklukannya. Penaklukan ini adalah batu
loncatan untuk penyebaran Islam di negeri tersebut dan membuka jalur
perdagangan dengan Cina.

Penaklukan Khurasan (29 H/649 M)

Pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Ahnaf bin Qais berhasil
menaklukan daerah Khurasan setelah berhasil memukul tentara Persia
dan mengusir raja Yezdigird III.

Penaklukan Konstantinopel (857 H/1453 M)

Pada tanggal 29 Mei 1453 kota Konstantinopel, ibu kota Bizantium
berhasil ditundukkan oleh Muhammad II, sultan Usmani yang terkenal
dengan nama Muhammad Al Fatih.

Penaklukan Kota Alexandria (21 H/641 M)

Dalam rangka implementasi perjanjian Babilonia, kaum muslimin
memasuki kota Alexandria, sedangkan tentara Romawi harus angkat kaki
dari kota tersebut. Dengan demikian maka kaum muslimin telah dapat
memerintah semua daerah Mesir.

Penaklukan Kota Mekah (8 H/630 M)

Setelah kaum Quraisy membatalkan secara sepihak perjanjian mereka
dengan Rasulullah saw, beliau menyiapkan pasukan yang terdiri dari
10.000 orang tentara untuk menaklukan kota Mekah. Kota Mekahpun
akhirnya dapat ditaklukan tanpa terjadi pertumpahan darah dan
Rasulullah saw memberikan amnesti kepada penduduknya, melakukan
tawaf dan menghancurkan semua berhala yang terdapat di sekitar Kakbah

Penaklukan Libia (23 H/644 M)

Amru bin Ash berhasil menguasai kawasan pantai Libia seperti Barca,
Tripoli dan lain-lain. Sedangkan pasukan Uqbah bin Nafi` menuju ke
selatan, ke kawasan lembah dan gurun dan berhasil menaklukan kota
Fazzan dan Zuwailah.

Penaklukan Rodes (193 H/809 M)

Penaklukan ini dilakukan oleh Humaid bin Makyuf, Gubernur pantai
Syam (Suriah dan sekitarnya) dan Mesir. Beliau berangkat memimpin
sebuah armada laut Islam di laut Tengah, menyerbu pulau Siprus
sebagai balasan atas tindakan mereka melanggar perjanjian damai yang
telah ditandatangani kedua belah pihak. Setelah itu ia menyerbu
pulau Crete dan pulau Rodes.

Penaklukan Samarkand (93 H/712 M)

Sejalan dengan rencana penaklukan yang bertujuan mengintegrasikan
semua kawasan Trans Oceania ke dalam pemerintahan Islam, Qutaibah
bin Muslim bergerak maju ke arah Khawarazem untuk menaklukannya. Di
sana beliau mengadakan perjanjian dengan Raja Khawarazem, kemudian
meneruskan tugasnya ke negeri Shagt dan berhasil menundukkan
Samarkand serta mengadakan perjanjian dengan penduduknya.

Penaklukan Sind (82 H/708 M)

Hajjaj As Tsaqafi, gubernur Irak mengirimkan sebuah ekspedisi
militer di bawah pimpinan Muhammad bin Qasim Tsaqafi, iparnya untuk
menaklukan wilayah Sind dengan memberikan bala bantuan sebanyak
6.000 orang prajurit dari Syam (Suriah dan sekitarnya) di samping
pasukannya sendiri. Mereka berangkat ke Makran dan berhasil
menaklukan wilayah Makran dan sekitarnya. Beliau menghadapi pasukan
Dahiran, Raja Sind, akhirnya raja itu terbunuh. Pasukannya terus
dikerahkan ke pedalaman Sind hingga beliau berhasil menguasai dan
menata negeri tersebut.

Perang (perjanjian) Hudaibiyah (6 H/628 M)

Ketika kaum Quraisy melarang rombongan Rasulullah saw beserta
rombongan yang terdiri dari sekitar 1400 orang memasuki kota Mekah
untuk melakukan umrah, beliau berhenti di Hudaibiyah dan mengutus
Usman bin Affan untuk berunding dengan Quraisy. Ketika Usman
terlambat kembali kepada rombongan, kaum muslimin memperkirakan
bahwa Quraisy telah membunuh delegasi Rasulullah tersebut, maka
Rasulullah saw bersiap-siap untuk menyerang Quraisy. Di saat itu
seluruh kaum muslimin berbaiat untuk berperang sampai mati. Tidak
lama kemudian Usman kembali, setelah itu terjadilah penandatanganan
perjanjian dengan kaum Quraisy.

Perang Abwa (2 H/624 M)

Perang ini dianggap perang pertama yang diikuti Rasulullah saw. pada
masa Islam. Jihad diwajibkan karena dua hal. Pertama, untuk
mempertahankan jiwa, kehormatan, harta dan negara. Kedua, untuk
mempertahankan dakwah Islam (seruan kepada agama Allah), jika ada
yang menghalangi jalan dakwah dengan menyiksa orang yang beriman
atau menghalangi seseorang yang ingin memeluk agama Islam atau
melarang juru dakwah menyampaikan ajaran Islam. Allah berfirman,
“Perangilah orang-orang yang memerangi kamu karena Allah, (tetapi)
janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Baqarah: 190). Jihad
diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, setelah kaum Quraisy
meningkatkan agresinya kepada kaum muslimin dan menghalang-halangi
dakwah. Allah menurunkan ayat kewajiban berjihad, “Telah diizinkan
(berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya
mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa
menolong mereka.” (Al Hajj: 39). Pada tahun itu Rasulullah saw.
meninggalkan kota Madinah bersama para sahabat setelah mempercayakan
urusan kota Madinah kepada Sa`ad bin Ubadah. Setibanya di Wadan atau
Abwa Rasulullah saw mencari kaum Quraisy dan Bani Dhamrah, setelah
beliau membuat perjanjian dengan Bani Dhamrah, beliau kembali ke
Madinah.

Perang Ain Jalut (805 H/1402 M)

Segera setelah mendengar berita bahwa Mongol akan menyerang Mesir,
Sultan Quthuz langsung menyiapkan pasukan yang terdiri dari Mamalik
di bawah pimpinan Bebaris Bindiqdari. Kedua pasukan bertemu di suatu
tempat yang bernama Ain Jalut dekat Napiles, Syam. Pasukan Mongol
yang dipimpin oleh Katbaga mengalami kekalahan pahit, sedangkan kaum
muslimin berhasil mematahkan serangan Mongol.

Perang Ajnadin (13 H/634 M)

Di bawah komando Khalid bin Walid, pasukan muslimin bertemu dan
bertempur melawan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Arthabun. Dalam
pertempuran yang sengit itu, pasukan muslimin berhasil mengalahkan
pasukan Romawi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s