Menggali kebaikan dengan kebaikan


“…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (QS. Al-Qashash : 77)

 

MAHA BESAR ALLAH yang telah menciptakan keseimbangan di alam raya. Langit yang berlapis-lapis, bintang yang beriringan, planet dan bulan yang tersusun seperti untaian kalung permata. Indah dan menakjubkan. Sayangnya, tak semua manusia menangkap kebaikan maha besar itu

 

Jangan pernah cukup hanya dari kemasan

Dunia bisnis biasanya selalu mengajarkan soal kemasan, memikat mata konsumen dengan kemasan hingga transaksi jual beli pun cepat berlangsung. Sayangnya tidak semua kemasan yang baik memberikan jaminan isi yang baik. Ketidakcocokan antara kemasan dan isi itu memunculkan ketertarikan di awal dan kecewa di akhir.

Begitu juga dengan perilaku. Tidak sedikit orang yang menjaga kesan baik pada penampilan, tapi gagal pada jati dirinya. Dan yang terjadi adalah seseorang menaruh hormat di awal dan kemudian merasakan biasa saja setelah sekian lama bergaul. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah saw. Siapapun yang bertemu Rasulullah akan terpesona karena kebaikan penampilan dan perilkunya, dan kemudian akan semakin akrab dan kagum setelah sedemikian lama bergaul.

 

Tiap kebaikan akan berbalas kebaikan

Inilah yang semestinya dipegang oleh setiap mukmin. Bahwa, sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, pasti akan dibalas oleh Allah SWT. Dari sinilah, dasar kebaikan yang dilakukan bukan karena mengharapkan pujian, simpati, imbalan, atau apapun. Akan tetapi tulus, karena ingin memberikan sesuatu yang terbaik buat ciptaan Allah SWT.

Akan tetapi tidak semua kebaikan berbalas dengan kebaikan, karena memang tidak semua orang mampu menangkap sinyal kebaikan dari orang lain. Bahkan buat mereka yang hatinya tertutup dari cahaya Allah, kebaikan sebesar apapun yang didapatnya terasa biasa-biasa saja. Tidak ada rasa syukur.

Allah telah dengan jelas berfirman bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang lebih besar (QS. 16 : 97). Yang menarik adalah ada kebaikan yang terus mengalir walaupun sang pelaku kebaikan tiada.

 

Kalau diri sendiri ingin menerima yang terbaik, begitu pun orang lain

Inilah mungkin yang kerap dilupakan orang. Mereka begitu sadar dan berharap terhadap hak yang mesti diterima, akan tetapi lupa dengan kewajiban yang mesti tertunaikan. Ingin mendapatkan barang dengan mutu terbaik, akan tetapi dengan harga yang sangat murah.

Islam sebagai agama yang mulia mengajarkan masalah hak dan kewajiban ini dengan cara yang berbeda. Dahulukan kewaji-ban, baru mengharapkan hak. Bahkan dalam sikap yang lebih mendasar, berikan sesuatu yang terbaik di setiap pergaulan. Tulus, bukan karena ikut-ikutan.

Rasulullah memberikan nasehat ”Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan dengan mengatakan kalau orang lain berbuat kebaikan, maka kami akan melakukan kebaikan, dan kalau mereka berbuat zalim, kami akan berbuat zalim.

Akan tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip,   kalau orang lain berbuat kebaikan, maka kami akan melakukan kebaikan juga dan apabila orang lain berbuat kejahatan, maka kami tidak akan melakukannya.” (HR. Attirmidzi).

           Dalam takaran seimbang, seseorang yang berbuat kebaikan sebenarnya dia sedang berkontribusi membangun lingkungan yang baik untuk dirinya sendiri. Dan sebailknya, sebuah keburukan sekecil apapun, juga akan meruntuhkan lingkungan yang baik.

Dalam QS. Al-Isra’ ayat 7 disebutkan ”jika kamu berbuat kebaikan, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagimu sendiri….”

 

Berbuatlah baiklah  sebagaimana Allah telah berbuat baik pada kita

Tak ada satu pun kebaikan yang mengalir pada manusia secara terus menerus, tanpa memandang status sosial, bahkan agama sekalipun kecuali dari Allah.

Sejak manusia bangun dari tidur, mengerjakan segala aktifitasnya, hingga manusia itu kembali pada kenikmatan tidur itu sendiri, semua terbingkai dalam kebaikan dan kemurahan Allah.

Sayangnya tak semua manusia menyadari semua itu. Sinar matahari yang bersinar dengan ukuran yang begitu proporsional seolah terjadi dengan sendirinya. malam yang gelap dan sejuk serta dihiasi oleh berjuta bintang seakan terjadi sebagai suatu hal yang lumrah dari sebuah perputaran bumi.

Air yang turun dari langit dan tak sedikitpun terasa asin, dianggap sebagai kesemestian dinamika alam semesta.

Hingga ujungnya bebas bertindaklah manusia tanpa tuntunan. Kebaikan Allah yang tak ternilai dengan uang berapapun bahkan dianggap sebagai hal yang lumrah dan wajar. Berbuat baiklah, sebagaimana Allah Swt. telah berbuat baik kepada kita. (QS. Al-Qashash : 77)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s