Jalan Juang*

Sabarlah wahai saudaraku // Tuk menggapai cita // Jalan yang kau tempuh // Sangat panjang // Tak sekedar bongkah batu karang…//

Kesabaran… Sebuah kata yang menjadi bekal para pejuang agama Allah. Sekilas terkesan mudah dilaksanakan. Satu kata sederhana dengan banyak aplikasinya. Sebuah sikap sederhana yang mampu memberikan energi ekstra menapaki jalan dakwah ini. Mungkin jauh di dalam benak kita tersimpan harapan yang sangat besar terhadap hasil yang dapat kita ambil melalui jalan ini. Memiliki skill yang lebih, prestasi akademik memuaskan, terupgrade tidak hanya pengetahuan keislaman tetapi juga keilmiahan, mempunyai saudara seiman yang selalu menyokong gerak langkah kita, syiar tersebar luas di kampus tercinta, proker-proker terlaksana dengan baik, pengurus-pengurus mempuyai komitmen yang tinggi, dan segudang harapan-harapan lain atas keberadaan kita di jalan dakwah ini.

Tanpa kesabaran bisa jadi kita terjebak pada pemikiran sempit, “Pokoknya harapan ane harus terwujud. ” Tidak salah jika pemikiran tersebut menjadi pemacu kita untuk dapat lebih banyak beramal. Tapi akan menjadi bumerang saat pemikiran itu menjadi sebuah harga mati yang membuat kita gelap mata ingin cepat-cepat meraih harapan tersebut. Lupa bahwa ikhtiar dibarengi dengan tawakkal, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Lupa bahwa harapan tersebut tidak bisa dicapai dengan instan, perlu proses yang membutuhkan pengorbanan dari masing-masing diri kita. Lupa bahwa harapan-harapan itu tidak akan bisa diraih dengan cuma-cuma. Harapan-harapan tersebut, insya Allah akan tercapai jika kita berjiddiyyah untuk mencapainya dan bersabar saat menemui onak-onak yang menimbulkan godaan untuk menyurutkan langkah.

Sabar bukan berarti menerima begitu saja permasalahan yang terpampang di depan mata, menghalangi diri dari harapan dan tujuan yang ingin diraih, tanpa ada daya upaya untuk menyelesaikannya. Tetapi sabar adalah saat kabut permasalahan menghalangi diri dari tujuan, diri ini tetap melangkah maju menyibak kabut tersebut sehingga jalan mencapai tujuan terbentang dengan jelas.

Yakinlah wahai saudaraku // Kemenangan ‘kan menjelang // Walau tak kita hadapi masanya // Tetaplah al-Haq pasti menang…//

Kesabaran yang terpatri dalam tiap langkah akan membawa pada keyakinan yang kokoh akan janji Allah. Janji tentang kebenaran yang pasti akan menang. Janji Allah yang akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Keyakinan bahwa memang beginilah adanya Allah mengajarkan kita untuk menjadi pribadi muslim yang tangguh.

Keyakinan bahwa dibalik kesukaran-kesukaran yang menghadang ada sekenario besar dari Allah yang Ia persiapkan untuk kita. Tidak bisa saat ini juga, saat baru memulai, harapan-harapan tersebut sudah mampu kita raih. Mungkin baru akan kita rasakan setelah beberapa lama. Mungkin bukan kita yang merasakan buah pengorbanan kita, tapi orang lain. Tapi tetap itu tidak mengurangi kemuliaan kita di sisi Allah, sepanjang ketakwaan dan keikhlasan masih menyertai.

Tanam di hati benih iman sejati // Berpadu dengan jiwa Rabbani // Tempa jasadmu jadi pahlawan sejati // Tuk tegakkan kalimat Ilahi…//

Tanpa iman yang kuat dan aqidah yang murni keyakinan tersebut sangat mungkin untuk melemah dan rontok di tengah jalan. Perpaduan dengan jiwa yang selalu dekat dengan Rabb-nya akan menghasilkan kekuatan dahsyat dari dalam diri. Kekuatan itu butuh penyaluran. Penyaluran yang maksimal melalui jasad yang kuat.

Jasad yang prima mampu mengeluarkan kekuatan ma’nawiy tersebut tidak setengah-setengah, tidak tertahan, tidak butuh perantara lain. Semuanya bersatu padu menghasilkan karya-karya luar biasa. Karya-karya seorang pahlawan. Karya-karya yang berperan dalam meraih tujuan akhir, “…sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata- mata untuk Allah…”

Pancang tekadmu // Jangan mudah mengeluh // Pastikan azzam-mu semakin meninggi // Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi // Namun janji ALLAH // Yang haq dan pasti…!

Terakhir, saat kesabaran, keyakinan, iman, jiwa Rabbani, jasad pahlawan berkumpul menjadi satu, pekerjaan terakhir adalah membulatkan tekad perjuangan. Tekad menjalani jalan juang ini. Tekad yang tidak dilunturkan oleh kelemahan pribadi. Tekad yang tidak dicemari oleh keluhan-keluhan atas permasalahan yang menghadang. Bukankah sebelumnya kesabaran dan keyakinan tinggi mampu menyibakkan permasalahan tersebut? Maka untuk apa lagi kita mengeluh? Tidak! Sama sekali tidak! Tidak ada lagi tempat untuk mengeluh. Karena kita di sini untuk berjuang. Dan keluhan hanya akan melemahkan semangat juang kita. Menghambat datangnya pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)…

sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. 2 : 214).

Wallahu a’lam .


*) Judul tulisan ini dan bait-bait yang dikutip adalah gubahan tim nasyid Izzatul Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s