Embun Pagi

Islam hadir ditengah kegersangan hati dan kegelapan akal masyarakat saat itu. Kehadiran Rasulullah bak embun di pagi hari yang membawa kesejukkan, kedamaian bahkan keselamatan. Begitulah hidup, seperti Islam yang sejuk, juga seperti pembawa ajarannya yang menyejukkan.

Embun pagi, Allah mengajarkan kesejukkan, kedamaian dan ketentraman hidup melalui ciptaan-Nya yang satu ini. Butir- butir air pagi itu begitu indah mengiringi pagi, menghias awali hari untuk menunjukkan kepada manusia, bahwa begitulah sebaiknya kita memulai hari-hari begitu ikhlas. Ia begitu tidak peduli harus mengering terserap panas ketika sang Matahari menampakkan diri, tak pernah menangis walaupun harus berguguran diterjang kaki-kaki dan tangan manusia yang hendak menikmati kesegarannya, tak pernah menyesal walau takdir menghendakinya hidup hanya di pagi hari, dan ia juga tak merasa iri dengan bentuknya yang kecil-kecil. Sebagai makhluk, embun tahu bahwa tugasnya adalah melaksanakan perintah sang Khaliq agar melayani makhluk lain dengan segala kemampuannya, meski yang dimiliki hanyalah setitik kesejukkan.

Saat panas matahari harus menyerapnya kembali ke langit, ia tahu bahwa sudah tiba giliran sang surya melaksanakan tugasnya melayani makhluk di bumi. “Tugasku sudah selesai” pikirnya. “Dan aku harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk tugas yang sama esok pagi” gumamnya. Begitulah hidup, setiap makhluk memegang peranannya masing-masing, setiap manusia menanggung amanahnya untuk dilaksanakan sebaik mungkin.

Dan setelah semuanya terlaksana dengan baik, kita harus tahu kapan waktunya untuk beristirahat atau mungkin mundur untuk memberikan kesempatan bagi yang lain untuk melaksanakan amanah dan tugas hidupnya. Allah tidak mengukur amalan manusia dari banyak sedikitnya, melainkan kualitas dan kontinuitasnya. Seperti embun, meski kecil dan sering tak dipandang manusia, ia tetap sejuk dan tak pernah absen di pagi hari.

Dalam menjalankan tugasnya dimuka bumi yang memang merupakan perintah Tuhan, kita diajarkan untuk selalu mengerahkan segala kemampuan, mengorbankan semua yang menjadi kekuatan kita, karena sebagai manusia, kita tidak hidup untuk diri sendiri. Allah tidak mengukur amalan manusia dari banyak sedikitnya, melainkan kualitas dan kontinuitasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s