BELAJAR MENDEKATKAN DIRI DENGAN LANTUNAN HATI

“Ya Allah… Sesungguhnya kehidupan ini adalah kehidupan akhirat… maka ampunilah orang Anshar dan Muhajirin…”

Syair berupa do’a tersebut pernah didendangkan oleh para sahabat pada saat pembangunan Masjid Nabawi. Bukan sekedar rangkaian kata yang hanya bernada namun tanpa makna, dibalik itu sejatinya telah terpancang suluh semangat bagi para pendendangnya. Di episode yang lain, gegap gempita wanita-wanita Anshar dilukiskan dalam sebuah dendangan yang sampai hari ini sering kita dengar: Shalawat Badar. Betapa lantunan tersebut terlahir dari pancaran hati yang sarat makna, lebih dari sekedar hiburan karena isinya menenteramkan, melahirkan kebahagiaan, mewakilkan segenap suka cita dan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Hingga pada diri kita, barangkali masa kecil kita juga senantiasa ditemani oleh lembutnya ‘ninabobo’ yang menghantarkan tidur kita. Orang-orang tua yang semakin semangat bekerja karena sambil menyenandungkan nyanyian hati penggugah jiwa, menatap kembali semangat para tokoh sejarah masa lalu dengan melantunkan syair-syair yang menyemangati diri. Bahkan mungkin sampai kepada seorang gembala yang menggiring ternaknya dengan bunyi-bunyian yang khas namun memiliki estetika bunyi yang bermakna.

Sebuah keniscayaan yang dapat dipetik dari berbagai fenomena di atas adalah, bahwa sadar ataupun tidak, mungkin sepanjang usia kita selalu ditemani oleh senandung berupa musik dan lagu. Sehingga kenyataan hari ini adalah ternyata musik dan lagu hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Selalu saja ada suatu potongan waktu dalam usia kita, disaat hati ini membutuhkan konsumsi batin yang mungkin hanya bisa diungkapkan dengan lantunan. Dengan kondisi hati yang bermacam-macam, maka lantunannya pun semakin berwarna. Tidak ada satu ummat pun dalam setiap zamannya yang meninggalkan musik dan lagu. Termasuk ketika persiapan perang Khandaq yang bersejarah itu, disaat kaum muslimin mendendangkan lantunan syair untuk menyemangati para penggali parit-parit perbatasan di masa itu.

Semuanya akan terlihat indah apabila muara dari syair-syair itu tertuju kepada Allah SWT. Tidak ada sedikitpun benih-benih kesyirikan maupun kefasikan di dalam rangkaian kata para penyair tersebut. Namun fenomena hari ini berkata sebaliknya, yakni telah banyak pula lantunan berbentuk lagu yang sangat kosong isinya, namun ternyata memiliki nilai jual yang sangat mahal. Katakanlah semisalnya fenomena naik daunnya artis-artis papan atas yang ternyata menyampaikan lagu-lagu tanpa makna, bahkan mengarah pada makna yang negatif. Syair-syair yang ditulis merupakan kata-kata cinta yang dipilih untuk memanjakan manusia, hingga mereka terlena dengan merdu suaranya. Terlebih lagi ketika kata-kata itu semakin menggantikan fitrah pendengaran kita. Disaat hati manusia lebih bergetar ketika disebutkan nama manusia ketimbang nama Tuhannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS Al Anfaal:2)

Polemik musik dan lagu ini dinilai cukup rumit. Lihatlah bahwa tidak seluruh ulama memiliki kesamaan sikap dan pandangan, ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Beberapa ulama yang mengharamkan musik dan lagu seperti Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah, Al Albani dan lain-lain, mereka merujuk kepada Al Qur’an dan hadits, namun dari ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits tersebut ternyata tidak ada satupun yang dapat dijadikan hujjah atas keharaman musik dan lagu. Para ulama bersepakat mengenai haramnya lagu yang mengandung keburukan atau kefasikan dan mengundang kemaksiatan, walaupun lagu hanya sebatas ucapan. Mereka bersepakat atas kebolehan lagu yang tidak menggunakan alat-alat musik dan instrumen lain yang dibawakan pada waktu-waktu gembira yang disyari’atkan seperti di hari raya dan hari pernikahan.

“Apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitabnya maka halal, dan apa yang diharamkan maka haram,maka terimalah dari Allah segala yang dicukupinya, karena sesungguhnya Allah tidak mungkin lupa terhadap sesuatu.”(QS. Maryam: 64)

“Sesungguhnya Allah mewajibkan hal-hal yang fardhu, maka janganlah kalian menghilangkannya dan membatasi dengan batasan-batasan maka janganlah melanggarnya, dan mengharamkan sesuatu maka janganlah melanggarnya dan Dia diam atas segala sesuatu maka merupakan rahmat bagi kamu yang tidak dilupakan maka janganlah kalian mencari-carinya.”

Jelas bahwa hukum dasar atas segala sesuatu dalam islam adalah dibolehkan kecuali yang tegas terlarang, begitulah yang berlaku pada musik dan lagu, hukum dasarnya adalah mubah/boleh. Beberapa lagu yang tidak diikhtilafkan kebolehannya seperti lagu-lagu yang menyebutkan keagungan Allah, menyanjungkan pujian kepadaNya, puji-pujian kepada Nabi dan para Sahabat serta nyanyian yang menimbulkan semangat kepahlawanan (bisa dinyanyikan sendiri atau bersama-sama) adalah merupakan hal yang diterima dan terpuji. Kebolehan nyanyian (lagu dan musik) tidak lalu menjadikan kita berlebihan dan melampaui batas, karena itu bagi umat Islam yang mendengarkan atau sebagai pelaku musik dan lagu harus memperhatikan beberapa hal berikut:

Pertama, lirik lagu yang dilantunkan. Tidak semua lagu dibolehkan dalam syari’at islam. Lagu yang dibolehkan adalah lagu yang syair/liriknya tidak bertentangan dengan aqidah, akhlak dan syari’at islam. Lirik lagu yang mengandung keragu-raguan terhadap keimanan, penciptaan, hari kiamat dan sejarah kenabian, eksploitasi fisik (terutama wanita), dan hal-hal yang mengandung kemaksiatan pada Allah adalah haram.

Kedua, alat musik yang digunakan. Nyanyian yang disertai alat musik atau tanpa alat musik mengundang kontroversi antara para ulama sejak periode pertama. Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah dhuff (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.

Ketiga, cara atau gaya penampilan & aktivitas pendukung. Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara’ seperti tabarruj, tidak menjaga aurat, dan perlu diperhatikan gaya penampilan agar tidak menyebabkan terlena dengan gerak dan melupakan makna yang disampaikan. Dalam aktivitas musik & lagu ini juga tidak dibarengi dengan sesuatu yang diharamkan, seperti minuman keras, narkoba, ikhtilat, dan hal-hal lain yang merupakan aktivitas kemaksiatan.

Keempat, intensitas interaksi. Musik dan lagu sebagaimana hal lain yang dibolehkan, wajib dibatasi dengan tidak adanya unsur berlebihan. “ Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang berlebihan.” (QS. Al’A’raf:31). Intensitas interaksi dengan hal yang mubah jangan sampai melampaui intensitas interaksi dengan hal yang di sunnahkan apalagi dengan hal yang wajib. Ibnu Muqaffa berkata: “Saya tidak pernah melihat tindakan yang berlebihan ,kecuali di dalamnya ada hak yang dihilangkan.”

Kelima, sesuatu yang berkaitan dengan pendengar. Rasulullah SAW bersabda: “Perbuatan baik itu adalah yang bisa membuat hati dan jiwa menjadi tenang, sedangkan dosa adalah yang membuat hati dan jiwa tidak tenang sekalipun difatwakan” (HR. Ahmad).

Setiap diri lebih mengetahui tentang dirinya dibandingkan orang lain, ketika dia merasakan musik dan lagu menguasai nafsunya, membuatnya berkhayal, menyebabkan terbukanya pintu maksiat ke dalam hati, agama dan akhlaqnya, maka tanyalah pada batin kita masing-masing..

Maroji’:

1. Poetra, Adjie Esa. Revolusi Nasyid

2. Qardlawi, Yusuf. Fiqih Musik dan Lagu “Perspektif al-Qur’an dan as-Sunnah”.

3. Qardlawi, Yusuf. Seni dan Hiburan dalam Islam

One response to “BELAJAR MENDEKATKAN DIRI DENGAN LANTUNAN HATI

  1. وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ الْكِلَابِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ الْأَشْعَرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَامِرٍ أَوْ أَبُو مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ وَاللَّهِ مَا كَذَبَنِي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَداً فَيُبَيِّتُهُمْ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

    “Akan ada sebagian di antara umatku yang menghalalkan zina (al-hir), sutera (al-hariir), dan minuman keras (al-khamr) serta alat-alat musik (al-ma’aazif). Kemudian sebagian di antara kaumku akan ada yang turun di sisi gunung, lalu datang orang yang membawa ternak-ternak mereka dan mendatangi mereka untuk suatu keperluan. Mereka berkata: ‘Datanglah lagi kemari besok.’ Maka malam itu Allah menghancurkan mereka, Allah meruntuhkan gunung tersebut dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s