Para Sahabat (4)

Bilal bin Rabah Al Habasyi (wafat 20 H/641 M)

Sahabat ini dibeli oleh Abu Bakr Siddik dari orang musyrik ketika
beliau melihat Bilal disiksa oleh kaum Musyrikin karena dia beriman,
setelah itu memerdekakannya. Sahabat ini terus menerus mendampingi
Rasulullah saw dan menjadi muazinnya, malah mengikuti semua
peperangan yang dikuti oleh Nabi saw. Rasulullah saw
mempersaudarakan natara beliau dengan Abu Ubaidah bin Jarah.
Sepeninggal Rasulullah saw beliau ini mengikuti perang dan syahid
dalam perang di Syam.

Buraidah (wafat 63 H)

Nama lengkapnya adalah Buraidah bin Husaib bin Abdullah bin Harits
Al-Aslami Al-Madani, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Sahal.
Beliau termasuk sahabat yang pernah tinggal di Kota Madinah kemudian
pindah ke Kota Basrah dan ikut dalam perang di kawasan Khurasan.
Beliau meninggal dunia di Meru.

Dahiah Al Kalabi (wafat 45 H/665 M)

Sahabat ini menjadi tumpuan perumpamaan karena kegantengannya,
sampai-sampai malaikat Jibril as pernah turun membawa wahyu kepada
Rasulullah dengan gambaran fostur tubuhnya. Perang yang pertama
diikutinya adalah perang Khandak, konon kabarnya beliau juga
mengikuti perang Uhud, namun tidak sempat mengikuti perang Badar.
Rasulullah saw pernah mengutusnya menjadi delegasi kepada Kaisar
Hiraklius di Roma. Beliau ini hidup sampai masa pemerintahan Muawiah.

Fadel bin Abbas (wafat 13 H)

Fadel bin Abdul Muthalib bin Hasyim Al-Qurasyi yang dijuluki dengan
Abu Muhammad ini adalah anak tertua dari Abbas bin Abdul Mutalib,
paman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal Rasulullah saw. beliau ikut
dalam pasukan yang diutus ke Syam, beliau gugur sebagai syahid dalam
Perang Ajnadin.

Habbab bin Munzir bin Jamuh (wafat 20 H)

Sahabat pemberani ini adalah tokoh yang diminta pertimbangannya oleh
Rasulullah saw ketika perang Badar yang mengemukakan pendapatnya
agar pasukan diposkan di tempat-tempat sumber air dalam melawan
musuh. Semasa jahiliah juga beliau ini termasuk konsultan yang
diperhitungkan. Beliau sempat mengikuti perang Badar, Uhud dan semua
perang yang diikuti Rasulullah saw. Beliau ini meninggal di masa
pemerintahan Umar bin Khattab ra.

Hakim bin Huzam (wafat 54 H)

Nama lengkapnya adalah Hakim bin Huzam bin Asad bin Abdul Gazi,
ponakan Khadijah istri Rasulullah saw. Sebelum dan setelah kenabian
beliau ini adalah teman akrab Rasulullah saw, sewaktu kaum Quraisy
memboikot Rasulullah, beliau tidak termasuk, karena menghormati Nabi
saw. Beliau baru masuk Islam ketika penaklukan kota Mekah dan
terkenal sebagai orang yang banyak jasa baik dan derma.

Hamzah bin Abdul Muthalib (wafat 3 H/625 M)

Paman Rasulullah saw sekaligus saudara sesusuannya ini adalah
seorang bangsawan Quraisy yang masuk Islam pada tahun kedua setelah
kebangkitan Rasul. Beliau komitmen dalam meebela Rasulullah dan ikut
hijrah ke Madinah. Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan
Zaid bin Haritsah. Beliau ikut dalam perang Badar dan meninggal
dalam perang Uhud.

Haris bin Kildah (wafat 50 H)

Sahabat asal Taif dari suku Tsaqafi ini adalah dokter dan pilosof
Arab yang terkemuka di masanya. Beliau lahir di masa jahiliah dan
hidup semasa dengan Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Beliau pergi
belajar ilmu kedokteran ke Persia, dia mempunyai kumpulan karya
tulis seputar kedokteran antara lain buku polemik kedokteran antara
beliau dengan Kisra. Beliau juga seorang puitis. Dia meninggal
semasa pemerintahan Muawiah.

Hasan bin Ali (wafat 50 H)

Putra sulung dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah ini sangat
mirip dengan Rasulullah saw. Beliau dinobatkan sebagai khalifah
sepeninggal ayahnya, namun beliau memilih tidak berperang, untuk itu
beliau mengundurkan diri dari tahta kekhalifahan sekaligus
menobatkan Muawiah dengan satu catatan sepeninggal Muawiah, beliau
akan kembali naik tahta. Hasan meninggal di Madinah.

Hisyam bin Ash (wafat 13 H)

Hisyam bin Ash bin Wail bin Hsyim As Sahmi ini dari sejak dini telah
memeluk Islam di Mekah. Beliau sempat ikut emigran ke Abessinia
tetapi dia kembali ke Mekah untuk menyusul Nabi saw yang dia dengar
berhijrah ke Madinah, namun malang dia dikurung oleh orang tua dan
keluarganya di Mekah. Beliau baru dapat keluar dari Mekah ke Madinah
setelah perang Khandak. Beliau dapat mengikuti semua peperangan yang
terjadi setelah Khandak, beliau meninggal dalam perang Ajnadin.

Huzaifah bin Yamman (wafat 36 H/656 M)

Sahabat tokoh penaklukan ini banyak memegang rahasia-rahasia Nabi.
Khalifah Umar bin Khattab ra. mengangkatnya menjadi pemerinah di
Madain. Pada tahun 642 M, dia berhasil mengalahkan pasukan Persia
dalam perang Nahawand, kemudian dia mengikuti perang penaklukan
Jazirah Arab dan akhirnya meninggal di kota Madain.

Ikrimah bin Abu Jahal (wafat 13 H/ 634 M)

Sahabat asal Quraisy dari suku Mahzumi ini adalah anak musuh Islam
nomor satu. Beliau melarikan diri ke Yaman setelah penaklukan kota
Mekah tetapi istrinya yang bernama Umu Hakim menyuruhnya kembali
setelah mendapat persetujuan keamanan dari Rasulullah saw.
Sesampainya di Mekah beliau masuk Islam dan menjadi pemeluk Islam
yang baik. Beliau ini sempat mengikuti perang penumpasan kaum murtad
dan meninggal dalam perang Yarmuk.

Imran bin Husain (wafat 52 H)

Imran bin Husain bin Ubaid, adalah sahabat yang masuk Islam pada
tahun terjadinya Perang Khaibar (7 H). Pada perang penaklukan Kota
Mekah, beliau memegang bendera suku Khuzaah. Beliau wafat di Kota
Basrah.

Itban bin Malik (wafat 50 H)

Nama lengkapnya ialah Itban bin Malik bin Amru bin Aglan Al-Anshari
As-Salimi, salah seorang sahabat yang turut dalam Perang Badar.
Beliaulah yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw. dengan Umar bin
Khattab. Beliau meriwayatkan 10 hadis dan wafat pada masa Khalifah
Muawiah bin Abu Sofyan.

Jabir bin Abdullah Al-Anshari (wafat 78 H)

Nama lengkapnya adalah Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram
Al-Anshari As-Salami, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu
Abdullah. Pada akhir hayatnya beliau mengalami kebutaan dan sempat
meriwayatkan beberapa hadis dari Nabi Muhammad saw. dan Abu Said.
Dia berdomisili di Kota Madinah dan meninggal dunia di sana.

Jabir bin Samurah (wafat 74 H)

Nama lengkapnya ialah Jabir bin Samurah bin Janadah As-Sawai
Al-Madani, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Abdullah. Ibunya
bernama Khalidah binti Abu Waqqas, saudara kandung Saad dan Utbah.
Beliau wafat pada masa khilafah Abdul Malik bin Marwan.

Jakfar bin Abu Thalib (penerbang) (wafat 8 H)

Jakfar bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim ini masuk Islam
dari sejak dini dan sempat mengikuti hijrah ke Abessinia, malah
sempat mempublikasikan Islam di daerah itu. Dalam perang Muktah
beliau diserahi menjadi pemegang bendera Islam, setelah tangan
kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri, namun
tangan kirinya juga terpotong lagi, sehingga dia memegang bendera
itu dengan dadanya. Berbagai cobaan ditahankannya dalam mengemban
tugas ini, akhirnya beliau mati syahid di mana dalam tubuhnya
terdapat sekitar 90 goretan dan tembakan. Dalam suatu hadis
diriwayatkan, bahwa kelak di Surga Allah swt akan menggantikan kedua
tangannya dengan sepasang sayap. Oleh sebab itulah, maka beliau
dijuluki dengan nama Jakfar Penerbang atau Jakfar yang punya
sepasang sayap.

Jubair bin Mut`im bin Adi (wafat sekitar 57 H)

Sahabat asal Quraisy ini termasuk pemuka dan pakar genetis Quraisy.
Beliau masuk Islam antara perang Hudaibiah dan penaklukan kota
Mekah. Dia meninggal di masa pemerintahan Muawiah bin Abi Sofyan.

Jundub Al-Alaqi (wafat 64 H)

Nama lengkapnya adalah Jundub bin Abdullah bin Abu Sofyan Al-Bajli
Al-Alaqi, seorang sahabat yang dijuluki dengan Abu Abdullah. Pernah
berdomisili di Kota Kufah kemudian pindah ke Basrah. Beliau
meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang ada di kedua kota itu.

Kaab bin Malik (wafat sekitar 50 H/ 660 M)

Sahabat ini adalah seorang puitis yang banyak membantah cemoohan
yang dilontarkan kepada Nabi. Setelah memeluk Islam dia mengikuti
baiat Akabah dan berkesempatan mengikuti semua peperangan kecuali
perang Badar dan Tabuk. Beliau adalah termasuk sasaran ayat
[Terhadap tiga orang yang penerimaan taubatnya ditangguhkan sampai
mereka merasa dunia ini sempit dan jiwa merekapun terasa sesak
akibat ulah mereka sendiri dan mereka menduga bahwa tidak ada jalan
untuk selamat kecuali mengikuti petunjuk Allah, pada saat itulah
Allah baru menerima taubat mereka agar taubat mereka itu
benar-benar. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat]. (At Taubah
ayat 118).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s