Skala Waktu Perilaku Konsumen

Adanya hari kiamat dan kehidupan di
akhirat membuat kita harus memaksimalkan waktu yang dimiliki
dengan berbuat yang terbaik untuk kehidupan dunia, tetapi
dengan itu kita juga memiliki pondasi yang kokoh untuk
kehidupan akhirat.
Penjelasan Islam mengaitkan kepercayaan terhadap adanya Hari
Kiamat dan kehidupan di akhirat secara ketat dengan
kepercayaan terhadap adanya Allah. Hal ini memperluas
cakrawala setiap Muslim mengenai waktu setelah terlampauinya
kematian. Kehidupan sebelum kematian dan kehidupan sesudah
kematian terkait satu sama lain dengan erat sekali dalam
urutannya. Hal ini memiliki dua efek sejauh menyangkut
perilaku konsumen.
Pertama, akibat dari pemilihan perbuatan itu terdiri dari dua
bagian, yakni efek langsung dalam kehidupan di dunia sekarang
dan efeknya yang kemudian dalam kehidupan (di akhirat) yang
akan datang}. Karena itu manfaat yang diperoleh dari pilihan
semacam itu adalah keutuhan nilai-nilai sekarang dari kedua
efek ini. Kedua, jumlah manfaat alternatif dari penghasilan
seseorang ditingkatkan jumlahnya dengan dimasukkannya semua
keuntungan yang akan diperoleh hanya pada kehidupan (di
akhirat) yang akan datang.
Beberapa contoh dari manfaat-manfaat alternatif semacam itu
adalah pinjaman- pinjaman tanpa bunga (al-qardul hasan),
pemberian kepada orang-orang yang miskin dan yang terlantar,
memelihara binatang-binatang, menyisihkan sebagian harta untuk
kesejahteraan generasi-generasi yang akan datang, peningkatan
kehidupan masyarakat meskipun pada saat ia tidak memiliki
manfaat langsung bagi individu yang bersangkutan; penyiaran
ajaran (da’wah) Islam dan peningkatan amal saleh, dan
sebagainya.
Manfaat-manfaat penghasilan semacam itu tidak dimasukkan dalam
rasionalisme Max Weber bila manfaat-manfaat itu (dianggap)
tidak memiliki manfaat langsung. Jadi, banyak manfaat
alternatif dari penghasilan seseorang memiliki kegunaan
positif dalam kerangka acuan Islam, meskipun
manfaat-manfaatnya dalam kerangka acuan kapitalis dan komunis
bisa tidak ada atau bahkan negatif.
Lebih dari itu, menurut ajaran-ajaran Islam, setiap Muslim
“wajib mempergunakan sebagian waktunya untuk mengingat Allah,
dia harus menyumbangkan sebagian tenaganya untuk menyiarkan
kebenaran dan amal saleh,” dan harus memanfaatkan: waktu dan
usahanya untuk meningkatkan kehidupan spiritual, moral dan
ekonomi masyarakat”. Hal ini dapat dilakukan hanya dengan
mengikhlaskan sebagian tenaga manusia untuk mendapatkan
makanan dan barang-barang konsumsi lainnya, karena alternatif
lainnya, yakni, sikap masa bodoh, negativisme, dan kelaparan,
bertentangan baik dengan sifat manusia maupun dengan
ajaran-ajaran Islam.
Cakrawala waktu yang lebih luas ini mempunyai makna bahwa
setiap mu’min (Orang yang beriman) seharusnya tidak membatasi
dirinya sendiri untuk melaksanakan hal-hal yang
manfaat-manfaatnya dapat dia peroleh dalam kehidupan (di
dunia) ini. Dia diarahkan sedemikian rupa sehingga dia akan
melakukan apa yang baik atau berguna bagi dirinya atau
mengekspresikannya dalam istilah-istilah Islami, karena Allah
akan memberikan imbalan pahala untuk itu. Dalam hal ini, Nabi
Muhammad SAW pernah bersabda: “Bila orang melihat datangnya
tanda kehancuran dunia sedangkan dia memiliki tanaman kecil di
tangannya dan dia mampu menanamnya di tanah, dia harus
melakukannya. Allah akan memberikan imbalan pahala atas
perbuatannya itu.”
Hukum waris dalam Islam mendukung pandangan luas ini dengan
memberikan hak penuh kepada para ahli waris atas tanah milik
orang yang mewariskannya. Nabi Muhammad SAW dalam kaitan ini
dilaporkan telah memberikan saran agar meninggalkan ahli waris
yang kaya, bukan yang miskin. Keberhasilan yang sebenarnya
bagi setiap Muslim adalah keberhasilan yang mencakup cakrawala
waktu secara utuh, karena usaha yang sama untuk melakukan
kebaikanlah yang akan menghasilkan keberhasilan baik dalam
kehidupan di dunia ini, dengan segala aspeknya, maupun dalam
kehidupan di akhirat kelak. Al-Qur’an secara tegas menekankan
norma perilaku ini baik untuk hal-hal yang bersifat material
maupun spiritual untuk menjamin adanya kehidupan yang
berimbang, ia menyatakan:
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan
tangan manusia, sehingga Allah membiarkan mereka merasakan
sebagian akibat dari perbuatan mereka agar mereka mau kembali
ke jalan yang benar. Katakanlah (Muhammad!): “Berjalanlah di
muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang
sebelum kamu, bahwa kebanyakan di antara mereka
mempersekutukan Tuhan.
…Barangsiapa kafir dia sendirilah yang menanggung akibat
dari kekafirannya, dan barangsiapa beramal saleh sebenarnya
mereka sendiri juga yang menyiapkan tempat yang menyenangkan.
…Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka yang mau
mengikuti petunjuk-Ku itu tidak akan tersesat dan tidak akan
celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku,
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
mengumpulkan mereka di hari kiamat dalam keadaan buta.
Dan sudah aku (Nabi Nuh) katakan kepada mereka: “Mohonlah
ampunan kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Dia
akan menurunkan hujan lebat dari langit untukmu dan
memperbanyak jumlah harta dan anak-anakmu dan akan menjadikan
kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s