Kerjasama

Baik dalam masalah-masalah spiritual,
urusan-urusan ekonomik atau kegiatan sosial, Nabi Muhammad
SAW, menekankan kerjasama diantara umat Muslim sebagai
landasan masyarakat Islam dan merupakan inti penampilannya.
PenjelasanEkonomi Islam adalah ekonomi yang bebas, tetapi
kebebasannya ditunjukkan lebih banyak dalam bentuk kerjasama
daripada dalam bentuk kompetisi (persaingan). Memang,
kerjasama adalah tema umum dalam organisasi sosial Islam.
Individualisme dan kepedulian sosial begitu erat terjalin
sehingga bekerja demi kesejahteraan orang lain merupakan cara
yang paling memberikan harapan bagi pengembangan daya guna
seseorang dan dalam rangka mendapatkan ridha Allah SWT. Jadi
Islam mengajarkan kepada para pemeluknya agar memperhatikan
bahwa perbuatan baik (‘amal sâlih) bagi masyarakat merupakan
ibadah kepada Allah dan menghimbau mereka untuk berbuat
sebaik-baiknya demi kebaikan orang lain. Ajaran ini bisa
ditemukan di semua bagian Al-Qur’an dan ditunjukkan secara
nyata dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri. Prinsip
persaudaraan (ukhuwwah) sering sekali ditekankan dalam
Al-Qur’an maupun Sunnah, sehingga karena itu banyak sahabat
menganggap harta pribadi mereka sebagai hak milik bersama
dengan saudara-saudara mereka dalam Islam. Kesadaran dan rasa
belas kasihan kepada sanak keluarga dalam keluarga besar juga
merupakan contoh orientasi sosial Islam yang lain, karena
berbuat baik (ber’amal salih) kepada sanak keluarga semacam
itu tidak hanya dihimbau tetapi juga diwajibkan dan diatur
oleh hukum (Islam). Kerukunan hidup dengan tetangga sangat
sering ditekankan baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah; di sini
kita juga melihat penampilan kepedulian sosial lain yang
ditanamkan oleh Islam. Dan akhirnya, kesadaran, kepedulian dan
kesiapan untuk melayani dan berkorban di saat diperlukan demi
kebaikan masyarakat keseluruhan amat sangat ditekankan.
Ajaran-ajaran Islam pada umumnya dan terutama ayat-ayat
Al-Qur’an berulang-ulang menekankan nilai kerjasama dan kerja
kolektif. Kerjasama dengan tujuan beramal saleh adalah
perintah Allah yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. Baik dalam
masalah-masalah spiritual, urusan-urusan ekonomik atau
kegiatan sosial, Nabi SAW menekankan kerjasama diantara umat
Muslim sebagai landasan masyarakat Islam dan merupakan inti
penampilannya. Beliau mengatakan:
Kamu melihat orang-orang mukmin, dalam kaitannya dengan rasa
cinta timbal-balik diantara mereka, rasa syukur dan
keinginan-keinginannya, merupakan satu tubuh, sehingga bila
salah satu bagian dalam keadaan sakit, seluruh tubuh akan
jatuh sakit merasakan payah dan demam.
Kadang-kadang kerjasama memerlukan pendistribusian kembali
penghasilan dan kekayaan; Nabi menghimbau pendistribusian
kembali semacam itu dengan memuji Al-Asy’ariyyîn, sambil
bersabda:
BiIa Al-Asy’ariyyîn mengalami kekurangan pangan di kala
pergi berperang atau bila mereka berada di kota dan
persediaan pangan mereka menipis, mereka mengumpulkan semua
milik mereka di satu tempat dan membaginya dalam jumlah yang
sama diantara mereka sendiri. Mereka adalah (kelompok) milik
saya sendiri dan saya pun milik mereka.
Dalam rangka memperkuat orientasi sosial umat Muslim, Islam
memperkenalkan konsep kewajiban-kewajiban kolektif yang
membawa tanggung jawab individual. Dalam Fiqh Islam konsep ini
disebut Fardu Kifâyah. Konsep tersebut menekankan
kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan menuntut upaya individual
untuk memenuhinya, karena hal itu menuntut setiap individu
untuk bertanggung jawab selama kebutuhan-kebutuhan ini tidak
terpenuhi. Fardu Kifâyah mempunyai pengertian bahwa dalam
kaitannya dengan bidang-bidang usaha atau ilmu pengetahuan
yang penting bagi kesejahteraan umat Muslim, sudah cukup bila
bidang-bidang tersebut dilaksanakan oleh beberapa orang
anggota umat itu; tetapi hingga tugas itu benar-benar
dilaksanakan oleh orang-orang tertentu itu semua orang dalam
komunitas yang bersangkutan secara individual bertanggung
jawab kepada dan bisa dituntut oleh Allah SWT. Sebagai
konsekuensinya, M.N. Siddîqî mengingkari koordinasi
kegiatan-kegiatan ekonomik yang dilakukan secara tidak sadar
oleh suatu “konsistensi keputusan-keputusan individual yang
diambil secara otomatik” dan oleh “tangan tersembunyi untuk
melakukan kegiatan membabi buta secara terpadu untuk
memproduksi hasil-hasil yang ideal.” Dia menyatakan:
Islam tidak menampilkan filsafat semacam itu. Ia menuntut
upaya-upaya sadar untuk meraih tujuan-tujuan yang
diinginkan, di mana perlu dengan meramalkan kondisi
persoalan-persoalan yang secara otomatik muncul. Ia menuntut
pendistribusian kembali kekayaan dan menuntut pembentukan
lembaga-lembaga tetap untuk melakukan pendistribusian
kembali itu. Ia tidak pernah menganggap setiap bentuk
perdagangan, kontrak-kontrak dagang, pemanfaatan tanah dan
usaha-usaha produktif sebagai hal-hal yang sah hanya karena
secara otomatik terujud dan “wajar”. Bahkan ia menuntut
pengawasan secara cermat terhadap setiap kegiatan, dengan
mengesampingkan semua bentuk yang bertentangan dengan
kepentingan sosial dan membawa akibat-akibat yang tidak
diinginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s