26 September 2008 • 20:42
Membuat miskin, ternyata jauh sangat mudah ketimbang menanggulanginya.Tanpa sadar pun, sikap kita bisa-bisa telah turut mengkondisikan kemiskinan. Uang yang kita peroleh, misalnya, tanpa dizakati manfaatnya hanya terasa untuk sendiri. Kalaupun sebagian telah disisihkan, buat membayar pembantu atau untuk sosial, sifatnya hanya sekadar menolong.
Gaji pembantu, sudahkah dibayar sesuai dengan haknya? Mengingat kultur kita yang masih feodal, status pembantu tak lebih dari hamba sahaya. Akibatnya, imbalan yang diperoleh, lebih berlandaskan subyektifitas, bukanatas hak dan kewajiban. Lalu, kalau pun dana untuk sosial telah dialokasikan, jujur saja, persentasenya cenderung kecil. Juga, apakah dana sosial tersebut telah tersedia setiap bulan? Read the rest of this entry »
Filed under: islam
20 September 2008 • 13:50
Al Muzani gundah. Ia terserang penyakit pemikiran. Sesuatu yang di masa itu dikenal dengan ilmu kalam. Intinya, mendalami tauhid dan eksistensi ketuhanan ALLAH dengan logika-logika rasional murni. Misalnya tentang sifat-sifat ALLAH yang dipertanyakan dengan membandingkan sifat manusia. Tentang takdir, apakah manusia punya hak pilih dalam perilaku atau terpaksa. Asal muasalnya juga seputar kalam ALLAH, yaitu firman ALLAH. Tetapi ngelantur soal bagaimana cara ALLAH berbicara, dengan huruf atau tidak. Apakah huruf itu diciptakan atau tidak. Begitu seterusnya.
Sebelum imam Syafi’i datang ke negeri Al Muzani, Mesir, Al Muzani sering terseret mengunyah-nguyah kerumitan logika seperti itu yang tengah marak. Al Muzani sendiri dikenal sebagai sosok muda yang sangat suka belajar sejak usia belia. Hari itu kegundahannya datang lagi. Ia pun datang menemui imam Syafi’i, ulama besar yang mulai menetap di negerinya, setelah sebelumnya menjadi ulama besar di Makkah dan Iraq. Read the rest of this entry »
Filed under: islam
Komentar